Situasi Kian Meruncing, Pengisian Jabatan Wagub Kepri Terancam Gagal

1181
Tanjungpinang
Gubernur Nurdin dan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak saat paripurna pengesahan APBD Kepri 2018
Gubernur Nurdin dan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak saat paripurna pengesahan APBD Kepri 2018

Tanjungpinang-Satu tahun lebih, jabatan Wakil Gubernur (Wagub) Kepri, lowong. Meski proses tahapanya tengah berjalan di DPRD, namun siapa sosok yang akan menduduki kursi orang nomor dua di provinsi Kepri itu, masih terbungkus awan hitam.

Bagai panggung sinetron dengan cerita panjang berepisode, hingga penonton jenuh dan akhirnya meninggalkan cerita sinetron sampai babak akhir. Begitu agaknya perjalanan pengisian jabatan Wagub Kepri.

Lambannya proses pengisian jabatan Wagub Kepri, tidak terlepas dari tarik menarik kepentingan politik, yang menjadi akar masalah yang pelik dalam menetapkan Wagub Kepri definitif, sisa masa jabatan 2016-2021.

Bayangkan saja, dari tahun 2016 lalu, lima partai politik (Parpol) pengusung Sanur di Pilkada Kepri 2015, tak bisa duduk satu meja hanya untuk menetapkan dua orang calon Wagub Kepri. Jalan musyawarah bagi para pendekar demokrasi itu, ibarat: jauh panggang dari api.

Sebenarnya proses pengisian jabatan Wagub Kepri sudah dimulai, itu sejak Gubernur Kepri pernah melayangkan surat ke DPRD Kepri tahun lalu, dalam meneruskan usulan calon Wagub Kepri dari Parpol pengusung Sanur.

Hanya saja, calon yang diusulkan dalam surat dukungan para Parpol pengusung itu masih beragam nama. Setidaknya, ada lima orang calon direkomendasi Parpol pengusung. Sementara dalam UU No. 10/2016, pasal 176 ayat (2), Parpol pengusung hanya bisa mengusulkan dua orang Cawagub.

Bukannya mengembalikan usulan berisi lima nama itu, DPRD lewat Pansus dan Panlih terus mendayung ke tahapan berikutnya, hingga paripurna penetapan satu calon yang justru menyulut kisruh.

Pasalnya, DPRD Kepri berencana menggiring satu calon atas nama Isdianto ini ke paripurna pemilihan. DPRD beralasan sudah memberi tenggak waktu pengajuan nama satu calon lagi, sebagai pengganti Agus Wibowo yang mengundurkan diri.

Dilain sisi, tiga Parpol pengusung (Demokrat, PKB dan PPP) telah mengusulkan satu calon baru atas nama Mustofa Wijaya, sebagai pengganti Agus Wibowo, pada hari paripurna penetapan Isdianto sebagai Cawagub Kepri.

Melihat fenomena ini, Gubernur Kepri Nurdin Basirun pun dibuat gerah. Nurdin menyayangkan pengajuan nama baru calon Wagub Kepri oleh tiga Parpol pengusung, yang tak lain Parpol koalisinya juga ketika di Pilkada Kepri 2015 lalu.

“Nama calon lain yang dibacakan dalam rapat paripurna penetapan cawagub atas nama Isdianto itu, bukanlah berdasarkan kesepakatan bersama Parpol pengusung, melainkan hanya kesepakatan di partai masing-masing,” tegas Nurdin pada wartawan, Kamis (30/11), usai rapat pengesahan APBD Kepri 2018 di DPRD Kepri.

Seharusnya, kata Nurdin, pengajuan nama baru lewat kesepakatan bersama Parpol pengusung. Setelah disepakati baru diusulkan ke DPRD untuk verifikasi berkas calon.

“Jika sudah disampaikan secara resmi ke meja Ketua DPRD, kan tak mungkin surat rekomendasinya bisa diganti lagi,” kata Gubernur Nurdin, yang juga ketua DPD Nasdem Kepri itu.

Dia menilai penyebab sulitnya parpol pengusung menentukan satu nama karena masing-masing parpol memiliki calon yang berbeda-beda.

Seperti diketahui, partai Nadem dan Gerindra kukuh pada rekomendasi awal, meski tiga partai koalisinya yakni Demokrat, PKB dan PPP dan Demokrat telah mengusulkan Mustofa Wijaya, tidak hanya ke Gubernur namun juga ke DPRD Kepri, yang dibacakan pada saat paripurna penetapan Isdianto sebagai Cawagub Kepri.

“Nasdem dari awal sampai hari ini tetap mendukung nama Rini dan Isdianto dan kedua nama itu tidak pernah berubah,” ungkap Nurdin. Jika maubdirubah, saya harusblapor bos (Ketum Nasdem-red),” tegasnya.

Ia juga menepis rumor dirinya tidak berinisiatif duduk satu meja dengan koalisinya terkait penetapan dua nama Cawagub. “Selama ini kita sesama Parpol pengusung sudah sering mengadakan pertemuan soal dua calon Wagub Kepri,” bebernya.

Ditanya soal tudingan dirinya tidak menginginkan kehadiran Wagub, jawab Nurdin,”Biarkan saja orang mau ngomong apa” Nurdin menjelaskan, memilih Wagub Kepri itu ibarat mencari pendamping hidup yang bisa saling bekerjasama.

“Jadi untuk mencari istri itu, ya harus orang yang tepat dan cocok. Kan saya yang mau cari pasangan, lalu ketika saya usulkan Rini dan Isdianto, kenapa Parpol pengusung lain tidak ikut mendukungnya? Kalau DPRD ingin memaksakan (calon tunggal-red) silahkan saja,” ujar Nurdin.

Terkait inisiatif mengusulkan satu calon, Nurdin menyebut tidak ada jaminan semua Parpol pengusung menyepakatinya. “Nanti kalau saya dukung seseorang, apakah ada jaminan Parpol pengusung lain juga mendukungnya? Kan tidak juga,” kata Nurdin. (TR)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here