Peran Media Massa dalam Suksesi Kandidat di Pilkada 2018

Tanjungpinang
Kota Tanjungpinang salah satu daerah yang menyelenggarakan Pilkada serentak 2018
Kota Tanjungpinang salah satu daerah yang menyelenggarakan Pilkada serentak 2018

Tinggal beberapa bulan lagi, masyarakat di daerah akan menggelar pesta demokrasi untuk memilih pemimpin di daerahnya. Jika tidak ada aral, Pilkada Serentak akan diselenggarakan pada 27 Juni 2018.

Untuk kota tercinta, Kota Tanjungpinang, menjadi salah satu bahkan satu-satunya daerah di provinsi Kepri, yang menggelar pesta demokrasi daerah itu. Masyarakat di ibukota provinsi Kepri itu, akan memilih Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, periode 2018-2023.

Sejauh ini ada dua pasangan calon yang dipastikan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di kota Gurindam itu. Yakni pasangan Lis Darmansyah-Maya Suryanti dan Syahrul-Rahma. Selain itu, satu pasangan calon Independen yang juga dalam proses pemeriksaan berkas persyaratan di KPUD Tanjungpinang.

Dua atau tiga pasangan calon yang maju, masih menunggu keputusan KPUD Tanjungpinang. Namun berapapun calon yang maju tidak jadi soal, karena yang dibahas dalam tulisan ini adalah “Peran Media Massa dalam Sukesi Kandidat di Pilkada 2018”.

Dalam pesta demokrasi khususnya Pilkada, waktu 1 tahun apalagi 6 bulan untuk masa promosi dan kampanye kandidat terasa sangat singkat. Kandidat bersama tim pemenangannya tidak mungkin bisa menjelaskan visi-misi dan programnya secara door to door kepada masyarakat, apalagi untuk menyakinkan pemilik suara untuk memilihnya.

Maka, posisi media massa menjadi sangat penting, sekalipun kehadiran media-media sosial sudah menjadi ruang sosialisasi. Namun peran media massa baik cetak/eleltronik/online, masih dianggap paling efektif sebagai alat kampanye, karena pengaruhnya yang cukup besar dalam pembentukan opini publik.

Dengan multi fungsi yang dimiliki media, diantaranya sebagai alat perjuangan, kontrol sosial, juga saluran aspirasi hingga peyebarluasan (mobilisasi) informasi yang cepat dan efisien, menjadi ‘panggung’ yang tepat bagi kandidat untuk mempromosikan dirinya kepada khalayak ramai.

Disisi lain, media massa sudah tumbuh sebagai saluran informasi yang dipercaya publik, bahkan menjadi sarana penyambung ‘lidah’ dalam penyampaian aspirasi masyarakat.

Tak heran, kandidat selalu melakukan pendekatan dengan kalangan media bahkan tak jarang membuat kesepakatan terhadap media massa untuk menjadi bagian dari pemenangannya.

Tujuannya tak lain untuk memastikan media-media tersebut, benar-benar berada dalam satu garis perjuangan untuk memenangkan pertarungan sang kandidat dari lawan-lawan politiknya.

Keberpihakan media massa terhadap kandidat memang tidak bisa dipungkiri dalam perhelatan Pilkada. Meskipun dalam suatu perusahaan media ada banyak orang dengan pilihan yang berbeda.

Namun yang diharapkan kandidat bukanlah semata-mata mencari simpati dari orang-orang yang bekerja di media bersangkutan agar kelak memilihnya nanti. Tapi lebih dari itu, agar arah pemberitaanya mampu mendongkrak popularitas sang kandidat melaui penyampaian informasi positif kepada masyarakat.

Dominasi pemberitaan positif dengan membangun isu-isu positif terhadap kandidat menjadi nilai plus untuk mempengaruhi pemilih agar memilihnya nanti. Bahkan, pemberitaan positif mampu menarik simpati dan menggerakkan kelompok-kelompok warga untuk membentuk komunitas pemilih yang loyal kepada salah satu kontestan.

Maka tak heran, banyak kandidat yang berlomba-lomba mempromosikan dirinya lewat media massa. Dengan harapan agar popularitasnya terus naik dengan target tinggi: ia unggul dari para rivalnya.

Perlu diingat bahwa Popularitas merupakan tolak ukur Elektabilitas kandidat. Siapa yang sukses menyemai benih popularitas akan memanen elektabilitas yang berlipat ganda, maka kans untuk menang berpeluang besar.

@ Suluh Kepri

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here