Gelper Sangat Meresahkan, Warga Dukung Langkah Kapolda Kepri

1157
Tanjungpinang
Suasana penggrebekan judi di lokasi Gelper (ft: tbnk)
Suasana penggrebekan judi di lokasi Gelper (ft: tbnk)

Batam-Kehadiran Gelanggang Permainan (Gelper) di Kota Batam tak pernah sepi dari protes masyarakat. Pasalnya, dalam prakteknya permainan mesin elektronik itu, kuat indikasi judi.

Tak heran, keberadaan Gelper yang terus menjamur di Kota Industri itu, kian meresahkan warga, terutama kalangan ibu rumah tangga.

“Sejak maraknya Gelper ini suami saya sering pulang larut malam, uang belanja pun terus berkurang tiap bulannya,” keluh seorang ibu rumah tangga, yang tak ingin namanya dipublikasikan, Selasa (16/1).

Perempuan 45 tahun ini, sebut saja Sinta, mengaku mengontrak rumah di daerah Batu Aji, Kota Batam, dengan tiga anak, yang sudah bersekolah. Suaminya sehari-hari bekerja di perbengkelan.

Selama ini ia tak menaruh curiga ketika suaminya sering pulang larut dengan alasan lembur. Belakangan muncul curiga setelah setoran belanja berkurang drastis setiap bulannya.

“Ngakunya lembur tapi gaji suami malah berkurang. Alasannya macam-macam, dari dipinjam temannya hingga kehilangan uang,” ungkapnya menceritakan pengalaman keluarganya, pada pertengahan tahun lalu.

Kecurigaan Sinta akhirnya terungkap, setelah ia mengintai suaminya sepulang kerja. Rupanya, sehabis kerja suaminya ngantor di salah satu lokasi Gelper, untuk mengasah keberuntungan.

Barang bukti yang diamankan polisi dari lokasi Gelper (ft: tbnk)
Barang bukti yang diamankan polisi dari lokasi Gelper (ft: tbnk)

Akhirnya Sinta nekad dan memergoki suaminya sedang bermain dengan sebuah mesin elektronik di lokasi Gelper. “Kami pun sempat bertengkar. Namun setelah tiba di rumah, suami saya baru ngaku kalau sebagian gajinya ludes di Gelper,” ujarnya.

Sejak itu, Sinta yang hari-hari mengurusi rumah tangga dan tiga anaknya, tak yakin kalau Gelper adalah tempat bermain anak-anak dan orang dewasa, sebagaimana izin yang diterbitkan Pemerintah Kota Batam.

“Waktu di dalam (arena Gelper) itu, saya tak melihat satu pun anak-anak yang bermain, semua orang dewasa dan merokok. Gelper itu hanya kedok saja, karena dalam prakteknya tak ubahnya lokasi perjudian,” ia sangat yakin.

Pengalaman Sinta ini hanyalah satu kisah dari ratusan bahkan ribuan korban akibat maraknya Gelper di Batam. “Makanya saya sangat senang mendengar kabar bahwa polisi (Polda Kepri) merazia dan menutup kegiatan Gelper di Batam,” katanya.

Seperti diberitakan, pada Minggu (14/1) tengah malam hingga Senin (15/1) dini hari, jajaran Polda Kepri dan Polresta Barelang menggrebek dua lokasi Gelper yang menggelar perjudian.

Operasi yang dipimpin langsung Kapolda Kepri, Irjen Pol Didid Widjanardi ini, berhasil mengamankan seratus orang lebih yang berkaitan dengan busnis haram itu. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti, dan uang tunai ratusan juta rupiah.

Sebenarnya dari awal kebijakan Pemko Batam yang melegalkan Gelper di Kota Batam sudah menuai kritik dari banyak kalangan, terutama para ulama, tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan, yang berbasis agama.

Mesin-mesin elektronik di lokasi Gelper
Mesin-mesin elektronik di lokasi Gelper

Menurut sumber Suluh Kepri, maraknya Gelper di Kota Batam sudah lama dikeluhkan warga, hanya ditanggapi sebelah mata oleh Pemko Batam selaku pihak pemberi izin.

Keberadaan Gelper yang belakangan dilegalkan itu, justru mencetak prahara rumah tangga dan menjadi pil pahit bagi keluarga berpenghasilan senin-kamis.

Sebab, banyak dari warga khususnya kaum pria yang akhirnya ‘terinveksi’ mesin Gelper dengan impian mendapatkan hadiah uang puluhan juta rupiah, yang sebenarnya hanya harapan kosong dan berada di jalan tol kehancuran rumah tangganya.

Dari pengamatannya, dalam prakteknya ada aktivitas perjudian dibalik legalitas Gelper. Ia begitu yakin, hadiah berupa barang-barang elektronik seperti handphone, kipas angin dan televisi, yang dipajang di kasir hanya kedok saja, karena bisa juga ditukarkan dengan uang tunai.

Modusnya, masih menurut sumber, pemain yang berhasil memuntahkan tiket kemenangan dari mulut mesin elektronik Gelper, awalnya ditukarkan dengan barang yang tersedia di kasir. Akan tetapi, hadiah itu bisa juga ditukarkan lagi dalam bentuk uang, lewat kaki tangan pengelola Gelper.

Agar tidak kentara dan manjur mengelabui sorotan publik khususnya aparat terkait, maka pencairan uang atas hadiah Gelper berada diluar Gelanggang, yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi para maniak Gelper.

Ia pun menyesalkan kebijakan Pemko Batam yang hanya mengejar omzet pendapatan asli daerah (PAD) Batam,  tanpa memikirkan dampak negatif bagi warganya.

“Saya mengapresiasi langkah Pak Kapolda kita (Kapolda Kepri) yang baru ini dengan memimpin langsung penggrebekan lokasi Gelper di Batam. Saya yakin lokasi Gelper yang lain bakal tutup, karena takut akal bulusnya tercium polisi,” ungkapnya.

“Karena polisi sudah tau modus para pengelola Gelper, yakni hadiah bisa ditukarkan kembali dalam bentuk uang tunai. Kegiatan seperti itu jelas masuk kategori judi,” katanya. (TR)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here