“Guncang” Panggung Pilkada, Perempuan Mungil Ini Jadi Populer

Tanjungpinang
Rahma saat orasi politik dalam acara Deklarasi Syahrul-Rahma sebagai pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang
Rahma saat orasi politik dalam acara Deklarasi Syahrul-Rahma sebagai pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang

Tanjungpinang-Panggung Pilkada Tanjungpinang 2018, seketika bergetar, para politisi “Senggarang” tercengang, pimpinan partai politik di Tanjungpinang bahkan wilayah Kepri ikut geleng-geleng kepala, tak terkecuali masyarakat seperti terhipnotis, ketika mendengar kabar: nama baru pendampiang Syahrul, dari kaum perempuan.

Dia adalah Rahma, politisi partai PDI Perjuangan, yang selama ini hanya dikenal sebagai anggota DPRD Tanjungpinang, periode 2014-2019, dari daerah pemilihan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang.

Syahrul dan Rahma bahkan telah mendaftar sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, di KPUD Tanjungpinang, Senin (8/1) lalu. Pasangan ini diusung koalisi partai Gerindra, Golkar dan PKS.

Sosok perempuan mungil ini spontan menghiasi laman media online, juga media cetak dan elektronik. Namanya pun jadi kesohor karena menjadi pusat perhatian masyarakat di kota berpenduduk sekitar 250 ribu jiwa itu. Disaat yang sama sejumlah pihak sempat menunjukkan rasa kecewa. Kenapa dengan Rahma?

Kepada media, Abdul Razak. sesepuh Golkar dan mantan Ketua DPRD Kabupaten Kepri, sebelum Kepri menjadi Provinsi, mengaku kecewa karena Golkar mengusung kader partai lain. Golkar berharap Ade Angga, Ketua DPD II Golkar Tanjungpinang yang menjadi pendamping Syahrul.

Hal sama juga dirasakan partai PKS, yang jauh sebelumnya telah menjalin komunikasi intensif dengan Syahrul agar bersedia menerima kadernya, Ing Iskandarsyah sebagai pendampingnya.

Duet Syahrul-Rahma memang diluar dugaan, bahkan seperti mementahkan akal sehat para politisi. Nama Rahma jauh dari hiruk pikuk panggung Pilwako, dan tak pernah tersebut di pentas politik bergengsi itu.

Tak hanya itu, Syahrul adalah kader Gerindra dengan jabatan ketua DPD Gerindra Kepri. Gerindra adalah rival berat PDIP di Pilwako Tanjungpinang.

Bukan sekadar karena tidak berkongsi, namun jauh hari sudah terekam ditengah publik, bahwa panggung Pilwako Tanjungpinang 2018, adalah pertarungan sengit antara Lis Darmansyah dan Syahrul, dua sahabat yang pecah kongsi setelah lima tahun menjabat Wali Kota dan Wali Kota Tanjungpinang, yang berakhir pada Rabu 16 Januari 2018.

Sementara Lis Darmansyah juga kader partai PDIP, yang menjabat Sekretaris DPD PDIP Provinsi Kepri. Tak heran, munculnya nama Rahma sebagai pendamping Syahrul pada last minute pendaftaran calon, menjadi buah bibir di seantero Tanjungpinang, yang sekaligus mengundang spekulasi beragam. “Bagaimana Syahrul-Rahma bisa menjadi pasangan calon”

Pasangan Syahrul-Rahma saat menuju KPUD Tanjungpinang, untuk pendaftaran berkas calon di Pilkada Tanjungpinang 2018
Pasangan Syahrul-Rahma saat menuju KPUD Tanjungpinang, untuk pendaftaran berkas calon di Pilkada Tanjungpinang 2018

Bermula dari keputusan DPP Gerinda yang merestui duet Syahrul-Rahma di Pilwako Tanjungpinang 2018, akhir Desember 2017. Syahrul jadi sorotan publik, karena diaggap telah menentukan pilihannya kepada Rahma.

Namun saat itu suasana belum begitu riuh, sebab partai Gerindra yang hanya memiliki 3 perwakilan di DPRD Tanjungpinang, masih butuh 3 kursi lagi untuk  memenuhi syarat pendaftaran calon di KPUD.

Dugaan awal, Gerindra akan berbarengan dengan PKS menyokong Syahrul-Rahma, dalam koalisi SETARA, yang dibangun untuk Pilwako 2018. Kehadiran PKS dengan 3 kursi akan menggenapkan persyaratan minimal dukungan calon.

Sehingga isu tiga pasangan calon, sempat menyeruak. Nama Ade Angga, ketua Golkar Tanjungpinang, salah satu sosok yang bakal maju sebagai calon walikota bersama Anakpinang, koalisi bongsor yang didirikan partai Golkar, Demokrat, PPP, dan PKPI, total 11 kursi.

Prediksi itu muncul bukan tanpa alasan. Ade Angga yang juga Wakil Ketua I DPRD Tanjungpinang itu, adalah calon kuat pendamping Syahrul, dari awal hiruk pikuk Pilkada. Ia dibayang-bayangi Ing Iskandarsyah, kader PKS.

Makanya, simpatisan Ade Angga dan barisan “BERINGIN” tidak langsung tergoda untuk bereaksi. “Kami masih menunggu, nanti juga aka dikabari ketua (Ade Angga),” demikian pendapat seorang politisi Golkar, akhir Desember 2017 lalu.

Kabar yang ditunggu-ditunggu akhirnya tiba. Partai Golkar lagi-lagi menyampaikan kabar mengejutkan. Partai yang dinahkodai Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian itu, justru menerbitkan rekomendasi sebagai pengusung duet Syahrul-Rahma di Pilwako Tanjungpinang 2018. Ade Angga pun batal maju sebagai calon walikota.

Keputusan ini spontan mengundang reaksi dari para sesepuh Golkar Tangnjungpinang dan Kepri, serta barisan simpatisan Ade Angga. “Kecewa,” itulah yang terlontar, seperti yang disampaikan Abdul Razak, yang kini menjabat Ketua LAM Tanjungpinang. Ade, panggilan akrabnya, sempat repot, bolak balik melayani pertanyaan media.

Ade mengaku sangat memahami rasa kecewa dari sesepuh dan seniornya itu, juga barisan beringin serta para simpatisannya. ‘Saya menyadari akan membuat banyak orang kecewa, namun demi masyarakat Tanjungpinang, keputusan yang sulit itu harus saya lakukan,” ungkap Ade, pekan pertama Januari 2018.

“Saya yakin pada waktunya juga akan saling memahami dengan posisi saya dalam menentukan sebuah sikap yang sangat dilematis. Pilihan mundur satu langkah adalah keputusan sarat pertimbangan, yang bermuara kepada kepentingan masyarakat,” Ade menambahkan.

Terlepas dari hiruk pikuk itu, Rahma kini sudah kokoh menentukan sikap politiknya. Syahrul dan Rahma juga telah mendaftar ke KPUD Tanjungpinang, Senin (8/1) lalu. Yang tinggal menunggu penetapan pasangan calon oleh KPUD, pada 12 Februari nanti.

Pasangan Syahrul-Rahma di Kantor KPUD Tanjungpinang
Pasangan Syahrul-Rahma di Kantor KPUD Tanjungpinang

Memang sebuah keputusan yang sangat dilematis. Rahma yang merupakan istri seorang pengacara itu, harus terdepak dari partai PDIP, dan sekaligus menutup pundi bulanannya sebagai wakil rakyat, dengan sisa masa jabatan kurang lebih 2 tahun lagi.

“Itu konsekuensi yang sudah saya pertimbangkan matang. Saya minta pandangan dan restu suami, juga saran dari keluarga besar kami, masukan para orang tua, sahabat bahkan aspirasi konstituen saya pada Pemilu legislatif 2014 lalu. Semua mendukung saya untuk mendampingi Pak Syahrul di Pilwako Tanjungpinang,” ungkap Rahma kepada Suluh Kepri, pada Rabu (17/1) di Tanjungpinang.

Disinggung kesiapannya dalam Pilkada Tanjungpinang, baik mental maupun ongkos politik yang cukup tinggi, Rahma menjawab santai dengan wajah sumringah.

“Ya siap dong, meski saya dan Pak Syahrul tak punya banyak uang, namun kalau untuk kepentingan masyarakat, kami pasti siap bahkan berlari kencang membenahinya. Karena kekuatan kami adalah masyarakat Tanjungpinang,” katanya.

“Dan, itu memang komitmen Pak Syahrul yang ditegaskan kepada saya: untuk membereskan keluhan-keluhan yang selama ini tak kunjung dibereskan,” ujarnya.

Sayangnya, belum banyak informasi yang bisa digali dari Rahma, karena pertemuan singkat tak disengaja di Morning Bakery, D’ Green itu, ia tampak sibuk dan repot tegur sapa dengan para sahabatnya yang berkunjung di tempat itu.

Sementara menurut pengamat politik Zamzami A Karim, kehadiran Rahma semakin memperkuat posisi Syahrul untuk membangun citra yang baik ditengah masyarakat.

“Dengan menggandeng Rahma dari kader PDIP, yang notabene pernah meraih suara terbanyak dalam Pemilu Legislatif 2018 lalu (untuk Tanjungpinang), akan menaikkan posisi Syahrul di Pilwako nanti,” ujar Zamzami, beberapa waktu lalu.

Sebaliknya, bagi Lis Darmansyah, kata Zamzami, “lompat pagar” Rahma ke kubu Syahrul merupakan tantangan baru dalam kompetisi Pilwako Tanjungpinang. (TR)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here