Kisah Sopir Angkot yang Kawin 8 Kali Setahun, Hingga Minikahi 98 Wanita

2597
Tanjungpinang
Engkong Dola bersama isterinya Rina. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
Engkong Dola bersama isterinya Rina. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Namanya Engkong Dola, telah menikah 98 kali dengan wanita berbeda. Meski hanya seorang sopir angkot umum, namun dimasa mudannya dia dijuluki sebagai Playboy. Bagaimana tidak, ia bisa kawin 8-9 kali dalam setahun, dengan wanita yang berbeda.

Sebagai sopir angkot jarak jauh justru membuat hidupnya bisa malang melintang dalam dunia percintaan. Kawin-cerai pun menghiasi perjalanan hidup sang petualang cinta itu.

Kini, Engkong Dola, berusia 74 tahun, hidup bersama Rina, istrinya yang ke-98, dan sekaligus sebagai istri terakhirnya. Mereka hidup menumpang di lahan milik pemerintah DKI Jakarta, di Cipayung, perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi.

Di rumahnya yang cukup sederhana, Engkong Dola menceritakan kisah hidupnya ketika menjadi sopir angkutan umum. Di masa mudanya, Dola, dipanggil akrab, bisa kawin 8-9 kali dalam setahun. Ia mengaku banyak menikahi para janda disetiap persinggahan angkotnya itu.

Engkong Dola saat masih muda. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
Engkong Dola saat masih muda. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

“Kalau enggak salah nikah itu 8-9 kali dalam setahun. Nah, itu berbeda-beda tempat. Bapak kan sopir, nariknya jauh-jauh. Tapi bapak enggak boleh cari hiburan ke bar-bar. Kalau boleh, mungkin bisa ribuan (kali menikah),” kata Dola kepada kumparan.com, di kediamannya, Sabtu (17/2).

Namun semua pernikahannya itu, hanya seumur jagung dan berujung cerai. Rata-rata usia perwakinanya hanya bertahan dalam satu bulan. “Bapak enggak pernah menyakiti mereka, sebab suka-sama-suka. Terus dilepasnya pun (dicerai) mereka menerima dengan baik-baik,” kata Dola.

Menjalani hidup sebagai petualang cinta, menurut Dola, bukanlah hal yang patut dibanggakan. Ia pun merasa tidak bangga dengan perjalanan hidupnya seperti itu. Dola bahkan mengaku sangat-sangat menyesal menghabiskan masa mudanya dengan kawin-cerai, yang harus bisa lebih berharga lagi.

Sebab, saat itu Dola tidak pernah berpikir untuk bersungguh-sungguh bekerja demi masa depannya. Dia berharap para anak muda sekarang jangan mencontoh kehidupan masa lalunya itu.

“Kalau dulu soal masa depan persetan, nah sekarang baru menyesal. Bapak jangan dicontoh, tuanya blangsak begini,” ujar Dola.

Rumah Engkong Dola di Cipayung, Jakarta Timur. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)
Rumah Engkong Dola di Cipayung, Jakarta Timur. (Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan)

Ia baru insaf pada tahun 1996, dan memilih berhenti menjadi sopir dengan menjalani kehidupan normal bersama istri terakhirnya, Rina, 56 tahun, yang dinikahinya saat masih berusia 42 tahun, dan Dola ketika itu berusia 60 tahunan.

Kini Dola dan Rinan, istrinya, tinggal berdua di rumah sederhana yang terbuat dari dinding papan dan beratapkan seng. Mereka hidup dengan kebaikan alam, makan hasil bumi sendiri.

Di antara rerimbunan pohon, suara gemericik air sungai, dan kerok kodok yang bersahutan, Dola mengingatkan anak-anak muda agar tidak mengikuti jejaknya. (tr)

Sumber: kumparan.com

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here