Tim SABAR Haramkan Isu Negatif Dalam Berkampanye

Tanjungpinang
Muslim Matondang (jongkok) saat mengunjungi posko relawan pemenangan SABAR
Muslim Matondang (jongkok) saat mengunjungi posko relawan pemenangan SABAR

Tanjungpinang-Akhir-akhir ini kesibukan pria berusia 47 tahun itu cukup padat. Saban hari, ia harus bolak-balik dari posko satu ke posko lainnya. Memberikan pembinaan melalui diskusi-diskusi terbatas kepada sejumlah warga.

Suara pesan aplikasi whatsapp di ponsel pintarnya berdendang tak henti. Melalui beberapa grup Wa relawan binaanya, ia juga menyampaikan arahan ke seluruh barisan relawan.

Kesibukan itu mampir setelah ia ditunjuk Paslon Syahrul-Rahma yang memakai tagline: SABAR (Syahrul-Rahma Bersama Rakyat) sebagai salah satu anggota tim pemenangan, yang ditugasi membina beberapa komunitas relawan SABAR.

“Ya, hari-hari disibukkan seperti ini bagian dari tanggungjawab dalam pembinaan relawan pemenangan Syahrul-Rahma,” ungkap Muslim Matondang, Jumat (2/3), ditemui saat bertandang di Posko Relawan Pemenangan SABAR, Jl. Siderojo, Tanjungpinang.

Syahrul bersama relawannya
Syahrul bersama relawannya

Pembinaan itu untuk mengingatkan agar para relawan tidak melalukan kampanye negatif dengan penggunaan isu-isu negatif seperti SARA di Pilkada Tanjungpinang 2018,.

“Itu pesan Pak Syahrul dan Bu Rahma kepada relawannya. Makannya, kami relawan SABAR bersepakat untuk mengharamkan Kampanye Negatif yang menggunakan isu-isu negatif seperti SARA di Pilwako Tanjungpinang,” tegas Muslim.

Menurutnya, kampanye negatif kerap mewarnai perhelatan pesta demokrasi rakyat (Pilpres dan Pilkada) yang dihembuskan dalam pembentukan opini publik, agar citra lawan politiknya tergerus ditengah masyarakat.

Ia menyakini riak-riak isu negatif selalu menyertai perjalanan pesta demokrasi, meski tidak kontras namun hembusan angin “utara” (Muslim mengistilahkan isu negatif) itu bisa dirasakan, menyusup perlahan dengan cara bisikan berantai dalam perbincangan alias bual-bual kosong semisal di kedai-kedai kopi.

Rahma dan relawan pemenangan
Rahma dan relawan pemenangan

Ia mengatakan, isu-isu negatif bermuatan SARA dianggap seksi dan cukup potensial untuk menyerang pihak lawan namun sangat berbahaya dalam memecah belah kerukunan masyarakat yang selama ini terbangun cukup erat, akrab dan harmonis.

“Isu SARA ini digoreng-goreng sampai gosong hingga menimbulkan bau tak sedap terhadap lawan politiknya,” ujar Muslim, warga Jl. Kuantan, Tanjungpinang itu.

Sekilas, kata Muslim, perbincangan itu seperti berjalan alami karena dilontarkan antarsesama teman atau sahabat dalam gurauan, yang sebenarnya punya maksud tertentu, yaitu menebar benih isu negatif.

Tapi, celakanya, selepas percakapan itu, dari beberapa orang yang mendengarnya akan mengungkapkan hal sama (isu negatif) kepada temannya di mimbar yang berbeda.

Begitu seterusnya secara berantai hingga akhirnya membentuk presepsi baru yang dapat menodai citra baik seseorang yang sudah dibangun dengan bersusah payah.

“Jika tidak terdeteksi dengan cepat akan menjadi musibah besar bagi pasangan calon yang diisukan negatif, dan akhirnya kalah telak dengan lawan politiknya karena masyarakat sudah termakan isu untuk tidak memilihnya,” ujarnya.

Bagi Muslim ditunjuk sebagai Pembina Relawan SABAR merupakan beban berat karena penuh dengan tantangan yang jika tidak hati-hati dan dikelola baik akan justru membawa akibat buruk bagi Paslon yang dijagokannya.

Diskusi tim relawan SABAR
Diskusi tim relawan SABAR

Membina pergerakan barisan relawan bukan perkara mudah dengan beragam watak dengan sudut pandang yang berbeda. Makanya, ia selalu mengingatkan agar menjauhi isu-isu negatif apalagi berbau SARA dalam menyampaikan sesuatu hal di khalayak ramai.

Terutama dalam memperkenalkan Paslon Syahrul-Rahma, visi-misi dan programnya untuk tidak menyerang kubu dari pihak rival, serta jangan terpancing atau terjabak dengan isu SARA.

“Sekali lagi kami dalam barisan relawan SABAR mengharamkan politisasi SARA dalam berkampanye. Komitmen kami dalam memenangkan Syahrul-Raham adalah dengan cara-cara yang elegan, santun dan mendidik bagi masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya itu, Muslim juga berpesan agar relawan turut mengingatkan dan saling mengawasi teman-temannya dalam kelompok pergerakan masing-masing untuk tidak menggunakan isu SARA sebagai materi kampanye, baik berkomunikasi langsung maupun melalui media sosial.

“Tekad kami dari relawan SABAR ingin menjadi bagian sejarah perjalanan demokrasi Tanjungpinang dalam mewujudkan Pilkada yang damai, jujur dan adil serta menolak poltik uang dan SARA. (tr)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here