Jangan Golput tapi Teliti Memilih Pemimpin, Ini Tips dari Pery

115
Tanjungpinang
Pery Rehendra Sucipta
Pery Rehendra Sucipta

Tanjungpinang – Pemilu 2019 sangat berbeda dengan pemilu sebelumnya. Sebab rakyat tidak hanya memilih anggota DPR, DPD dan DPRD provinsi, kabupaten dan kota, tapi sekaligus untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden RI, pemimpin negeri ini, 5 tahun ke depan.

Di Pemilu tahun ini, ada dua pasangan calon yang akan bertarung di pentas Pilpres 2019. Yaitu pasangan nomor urut 1: Jokowi – Ma’ruf dan pasangan nomor urut 2: Prabowo – Sandi.

Pery Rehendra Sucipta mengajak warga negara yang memiliki hak pilih khususnya di Provinsi Kepri, untuk megggunakan hak pilihnya, pada 17 April 2019, dengan mendatangi TPS-TPS yang telah tersedia.

Bagi Dosen Prodi Ilmu Hukum UMRAH itu, golput atau tidak memilih bukanlah sebuah pilihan yang bijak dalam perhelatan pesta demokrasi. Karena, menurutnya, suara rakyat pada pemilu akan menentukan arah dan nasib bangsa.

“Karena jangan sampai ketika kita golput, kita sesungguhnya sedang tidak mengantarkan pemimpin yang baik, pemimpin yang beradab dan berakhlak yang akan menjadi pemimpin negeri ini,” papar Peneliti Laboratorium Hukum FISIP UMRAH itu, yang dihubungi suluhkepri.com, Selasa (9/4/2019).

Namun, ujar Pery,  jika memilih golput justru yang ada adalah sebaliknya, yaitu akan semakin terbuka peluang untuk terpilihnya pemimpin-pemimpin yang kepribadian tercela/berpenyakit hati seperti yang dimaksud oleh Raja Ali Haji.

Maka, kata Pery,” pastikan Anda tidak golput dan pastikan juga Anda teliti dalam memilih calon pemimpin di Pemilu 2019. Salah memilih maka taruhannya masa depan bangsa, nasib ratusan juta rakyat Indonesia”.

Bagi yang belum menentukan pilihan, karena berbagai alasan atau mungkin belum menemukan alasan-alasan untuk menjatuhkan pilihan kepada dua pasangan capres, 01 dan 02, Pery dalam kesempatan ini akan memberikan tips untuk memilih pemimpin.

Menurut Pery, untuk memilih calon pemimpin sangat relevan dengan apa yang disampaikan oleh Raja Ali Haji (Begawan Hukum Tata Negara) dalam tulisannya “Thamarat Al-Muhimmah” khususnya terkait kepemimpinan.

Dalam tulisannya, ucap Pery, Raja Ali Haji menyampaikan bahwa ada sifat tercela atau penyakit hati yang harus dijauhi oleh seorang pemimpin. Yang diantaranya, penyakit takkabur (takbur, angkuh), ghadab (pemarah), hasad (dengki), tamak (loba), bakhil (kikir), mughaffal (lalai).

Kemudian, lanjut Pery, israf (berlebih-lebihan), al-mazh (bergurau mempersenda), kizb (dusta), al-jaz (keluh kesah), ‘ajalah (gopoh), taswif (menunda-nunda), lam yujzi’ al-khayr (tidak membalas jasa baik), la yubali bi al-din (tidak menghiraukan suruhan agama).

Oleh Raja Ali Haji, sifat-sifat tercela ini diuraikan dalam tulisannya dengan bahaya terhadap diri dan negara. “Sifat-sifat tercela tersebut akan mendatangkan kepada dirinya mudharat besar atau kepada lainnya,” kata Pery mengutip tulisan Raja Ali Haji. (tr)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here