Taktik Politik Jelang Pilgub Kepri 2020: Dua atau Tiga Paslon?

316
Tanjungpinang

Panggung politik selalu buat kejutan. Terkadang yang dijagokan justru tersingkir. Bagaimana dengan Pilgub Kepri 2020, yang saat ini mulai hangat.

kantor gubernur kepri di dompak, tanjungpinang

Nama Nurdin Basirun mulai diperbincanagan publik, jelang Pilkada sertentak 2020, dimana Provinsi Kepri salah satu daerah yang akan menggelar pesta demokrasi dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gunernur (Pilgub) Kepri, periode berikutnya, 5 tahun kedepan.

Di warung-warung kopi di Tanjungpinang, misalnya, sosok Gubernur Kepri itu, selalu jadi perhatian saat membahas para figur yang dinilai potensial di Pilgub Kepri tahun depan. Dari bual-bual politik ala kedai kopi itu, sosok Nurdin Basirun masih paling diunggulkan di arena perebutan kursi orang nomor 1 di provinsi berbasis kemaritiman itu.

Alasan mereka cukup sederhana: Nurdin adalah petahana, dan partai yang dinahkodainya, yakni NasDem, berkibar di Pemilu 2019. Pertanyaannya: Apakah modal itu cukup? Tentu saja belum, sebab pencalonan Nurdin masih butuh dukungan partai lain untuk mendapatkan ‘tiket’ ke panggung Pilgub, belum lagi urusan memenangkan pertarungan untuk melanjutkan ke periode kedua. Jalan perjuangan masih panjang dan penuh tantangan yang tak mudah dilalui.

Pilkada serentak rencananya akan dihelat pada September 2020. Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mendata sekitar 269 daerah di Indonesia yang akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah. Yang diantaranya, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), bersama sejumlah daerah kabupaten/kota di wilayahnya, untuk pemilihan bupat/wakilnya.

Dari pengalaman perjalanan demokrasi di Indonesia, bahwa fenomena politik dalam perebutan kekuasaan tak lepas dari strategi dan taktik yang dalam prakteknya hampir mirip dengan permainan Catur. Siapa cerdik memainkan taktik, misalnya, lewat lobi-lobi politik, baik ke ‘markas’ lawan maupun kubu sendiri, dia akan berpeluang besar sebagai PEMENANG.

Dalam permainan catur memang yang diandalkan adalah taktik dan strategi, dari membangun pertahanan hingga mengatur langkah-langkah buah catur, untuk menangkis dan mematahkan serangan dengan tujuan akhir menjepit “Raja” dari kubu lawan.

Di Pilgub Kepri 2020 mendatang, persoalan yang rumit bagi para figur terutama petahana adalah banyaknya sosok yang menantang untuk dijagokan, bahkan sebagian dari mereka punya pengalaman mumpuni dalam kepemimpinan di Kepri.

Sebut saja, Ismeth Abdullah, Gubernur Kepri pertama yang defenitif setelah Kepri menjadi provinsi baru di Indonesia. Kemudian, Soeryo Respationo, Ketua DPD PDI-P Kepri yang juga pernah menjabat Wakil Gubernur Kepri. Di Kepri, partai besutan Megawati Siekarno Putri itu, berada di puncak pada Pemilu 2019.

Selanjutnya Ansar Ahmad, yang pernah menjabat Bupati Bintan selama 2 periode. Saat ini, Ansar juga menjabat Ketua Golkar Kepri, dan perolehan kursi partainya membuntuti PDIP. Ansar juga Caleg DPR RI terpilih di Pileg 2019.

Dari 4 nama beken diatas, masih banyak lagi figur putra daerah yang digadang-gadang sangat potensial memimpin Kepri, 5 tahun kedepan. Diantaranya, Walikota Batam M. Rudy, Huzrin Hood, yang dijuluki sebagai Tokoh Sentral Perjuangan Pembentikan Provinsi Kepri.

Bahkan ada sosok jenderal – yang juga diunggulkan, yaitu Yan Fitri Halimansyah. Jenderal Bintang Satu ini adalah salah satu putra terbaik Provinsi Kepri, yang saat ini menjabat Waka Polda Kepri. Mungkin saja, ada figur lain yang belum terekam atau sengaja berdiam untuk kemudian muncul pada saat yang tepat.

Selain itu, dari perolehan suara maupun kursi di DPRD Kepri, pada Pemilu 2019, diperkirakan tak ada satupun partai yang bisa mengusung calonnya sendiri di Pilgub 2020. Sehingga harus berkoalisi untuk mengusung jagoannya. Karena syaratnya, perolehan kursi minimal 20 % dari jumlah 45 kursi DPRD Kepri, atau 25 % dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu.

Bercermin dari hasil perhitungan suara, PDIP (8 kursi), Golkar (8 kursi), Nasdem (6 kursi), PKS (6 kursi) Demokrat (4 kursi), Gerindra (4 kursi) PAN (2 kursi), PPP (1 kursi), PKB (3 kursi), Hanura (3 kursi). PDIP dan Golkar yang berada diurutan 1 dan 2, kurang dari 20 persen jumlah kursi DPRD.

Dari perolehan kursi yang cukup bersaing dari urutan 1 hingga 4, yaitu PDI, Golkar, Nasdem, dan PKS, kemungkinan besar muncul 3 pasangan calon yang akan berlaga di Pilgub Kepri 2020. Dengan demikian, persaingan cukup ketat, dimulai dari syarat dukungan yang harus berkoalisi, serta perebutan suara selama masa berkampanye.

Nah, kondisi tersebut menuntut taktik dan strategi yang jitu bagi para bakal calon terutama calon petahana. Posisi Nurdin yang saat ini paling diunggulkan, bisa saja terjepit, jika M. Rudy, yang sama-sama berpayung Nasdem, menyatakan maju. Sebab Rudy disebut-sebut mendapat sokongan dari berbagai kalangan. Ini menjadi tantangan berat bagi Nurdin.

Sebaliknya, bila mereka duet, masalahnya, apakah ada partai yang lapang dada mengusulkan duet mereka dari partai yang sama. Satu-satunya jalan, Nurdin harus mampu membendung niat Rudy untuk maju ke Pilgub Kepri. Kepiawaian Nurdin dituntut untuk membangun pertahanan yang kokoh agar serangan musuh bisa dibentengi.

Di luar itu, para figur lain, yang sudah berpengalaman, juga akan membangun strategi dengan taktik yang super jitu. Gerilya akan dilancarkan untuk menghimpun kekuatan. Misalnya, sosok Ismeth Abdullah yang dinilai masih seksi untuk dijagokan di Pilgub Kepri.

Mantan Ketua Otorita Batam itu, punya kesan tersendiri bagi masyarakat Kepri khususnya warga Batam, atas kebijakannya selama memimpin dunia industri Batam, juga saat menjabat Gubernur Kepri, yang dianggap berpihak kepada masyarakat kecil. Ismeth memang bukan politisi, tapi dia dikenal dekat dengan petinggi partai di Kepri. Seperti PDIP, Golkar dan Demokrat.

Begitu juga dengan Soeryo Respationo, yang baru saja dinobatkan melanjukan kepemimpinanya sebagai Ketua DPD PDIP Kepri. Selain pernah menjabat Wakil Gubernur Kepri, Soeryo terbilang sukses mengibarkan bendera kemenangan bagi PDIP di Kepri, baik pada Pemilu 2014 maupun Pemilu 2019.

Untuk taktik membangun koalisi, Soeryo bersama pentolan partainya, cukup handal. Di Pilkada Kepri 2015, misalnya, PDIP bersama Golkar mampu meracik koalisi jumbo. Jika koalisi tersebut kembali dicapai di Pilgub nanti, tentu keadaan panggung politik akan berubah drastis, karena bakal banyak figur yang mundur teratur.

Sosok Ansar Ahmad juga tak bisa dianggap remeh. Kehandalan Ketua Golkar Kepri itu, sudah teruji dalam panggung politik. Mantan pejabat semasa Kabupaten Kepulauan Riau, meniti karir politik dari titik nol. Sebakul rintangan yang mengahadang perjalanan karier poltik mampu diatasi dengan tegar dan tenang.

Pertama kali terjun ke politik, Ansar menjadi Wakil Bupati Kepulauan Riau, mendampingi Bupati Huzrin Hood, ketika itu. Namun saat itu, punya pengalaman pahit karena kepemimpinan mereka mendapat guncangan dahsyat, di masa perjuangan Provinsi Kepri, hingga akhirnya retak.

Tapi Ansar bisa bangkit, dia yang dikenal bertangan dingin akhirnya sukses meraih tampuk ke pemimpinan Golkar Kepri. Karir tak terbendung, Ansar dua periode menjabat Bupati Bintan. Di Pemilu 2019, Ansar lolos ke Senayan, sebagai anggota DPR RI dari Dapil Kepri.

Di Pilgub Kepri, sosoknya digadang-gadang sebagai salah satu kandidat unggulan. Sebagai politisi senior, komunikasi politik Ansar tak diragukan lagi untuk merangkai koalisi partai menjelang Pilgub Kepri.

Sedangkan Brigjen Pol Yan Fitri, Wakapolda Kepri itu, meski bukan seorang politisi, tapi namanya mulai sering disebut dalam pentas Pilgub Kepri. Bahkan banyak kalangan yang berharap Yan Fitri bersedia maju di Pilkada 2020. Dia dinilai salah satu putra daerah Kepri, yang sangat potensial untuk membangun masa depan tanah kelahirannya itu.

Terlepas siapa figur yang mendapat tiket di Pilgub Kepri, selanjutnya pertimbangan peta kemenangan dalam perebutan suara pemilih. Dari banyak pengalaman di gelaran Pilkada, bila mengerucut pada 2 pasangan calon, kemungkinan besar calon petahana, yang dalam hal ini Nurdin Basirun akan lebih berpeluang menang.

Namun yang menjadi masalah, dari hasil perolehan kursi DPRD Kepri di Pileg 2019, kemungkinan besar akan muncul 3 pasangan calon yang akan bertarung di Pilgub Kepri 2020. Jika demikian, maka akan sulit diprediksi karena peluang menang: fifty-fifty.

Akan tetapi, semua itu baru sebatas analisa, faktanya mari kita lihat bersama seiring perjalanan waktu. (tr)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here