Panas Dingin di Senggarang Soal Seragam Siswa Gratis

Tanjungpinang

Seragam sekolah gratis yang telat dibagikan ke siswa baru tahun ajaran 2019/2020 menyulut amarah Syahrul. Walikota Tanjungpinang itu lalu melempar kritik kepada Ade Angga, Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang, yang menyoroti keterlambatan realisasi baju seragam siswa SD dan SMP itu.

walikota syahrul bersama siswa sd

Seragam sekolah gratis untuk SD dan SMP di Tanjungpinang menuai kritik. Pasalnya, hampir 3 bulan proses belajar mengajar di sekolah, baju yang dijanjikan belum juga dibagikan kepada siswa baru. Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang Ade Angga lantas mendesak pemerintah segera merealisaikannya.

Program jempolan Pemerintah Kota Tanjungpinang itu memang sangat dinanti orang tua siswa/sisiwi. Digembor sejak musim kampanye Pilwako Tanjungpinang 2018, seragam sekolah gratis ini, dari baju, sepatu, tas, topi dan kaos kaki, akan diterima siswa diawal masuk sekolah.

Itulah janji yang dipegang masyarakat saat Syahrul – Rahma berkampanye. Memang komitmen itu dipegang teguh setelah keduanya menjabat Walikota dan Wakil Walikota Tanjungpinang, hanya saja dalam pelaksanaannya molor.

Seperti diketahui, Pemerintah Kota Tanjungpinang telah mengganggarkan duit rakyat di APBD Tanjungpinang 2019, sebesar 6,7 M untuk pembelian seragam sekolah yang nantinya diberikan secara gratis kepada siswa baru di tahun ajaran 2019-2020. Dari janji, sediannya sudah diterima diawal masuk sekolah, namun hingga sekarang belum juga direalisaikan.

Suara sumbang dari masyarakat mulai terdengar. Kapan anak-anaknya menerima pakaian sekolah yang dijanjikan mulai dipertanyakan orang tua siswa. Wajar saja, karena anak-anaknya sudah hampir 3 bulan masuk sekolah.

Keluhan ini akhirnya sampai ketelinga Ade Angga, Wakil Ketua DPRD Tanjungpinang. Ade, panggilan akrabnya, langsung bersuara dan meminta Pemko Tanjungpinang untuk segera merealisaikan.

ade angga

Sejak itu, program seragam gratis menjadi perhatian awak media di Tanjungpinang. Apa masalah hingga belum direalisakan, sebab anggarannya sudah tersedia.

Setelah ditelusuri, ternyata pengadaan seragam sekolah gratis ini belum juga dilelang. Pihak-pihak terkait membenarkan hal itu. Macam alasanpun muncul ke permukaan. Ada yang menyebut masih mempersiapkan dokumen, yang satu menyalahkan pihak uji laboratorium karena belum clear juga sejak diajukan.

Yang anehnya, Dadang, mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tanjungpinang itu, ikut dipersalahkan. Ade Angga yang mengangkat persoalan juga jadi sasaran tembak.

Kepala ULP (unit layanan pengadaan) Tanjungpinang Zulhidayat mengatakan proses lelang seragam sekolah gratis belum dilakukan karena pihaknya belum menerima dokumennya dari Disdik Tanjungpinang.

Dari informasi yang diiterima Zulhidayat, pihak Disidik masih mempersiapkannya. Ia menegaskan pihaknya sangat siap melakukan proses lelang setelah menerima dokumen kegiatan terkait. Dokumen yang dimaksud dari penyusunan HPS, spek teknik, RAB dan lainnya.

“Kemungkinan dalam waktu dekat permohonan pelelangan itu akan diserahkan kepada kita,” katanya, Rabu (21/8), seperti dikutip dari lintaskepri.com.

“Semua kembali kepada Disdik dalam mempersiapkan segala perlengkapan dan proses lelang itu”.

Kapan akan direaliaaikan, ia memperkirakan seragam sekolah siswa baru bisa didistribusikan di bulan Oktober atau November 2019. “Akhir Oktober atau selambat-lambatnya awal November kita perkirakan baru bisa didistribusikan kepada siswa,” katanya.

Program seragam sekolah gratis
Program seragam sekolah gratis

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang Atmadinata menyebutkan alasan keterlambatan penyerahan berkas ke pihak layanan lelang karena masih menunggu hasil uji laboratorium tekstil di Bandung.

“Sudah dikirim ke laboratorium di Bandung, sudah 10 hari yang lalu, hanya hasilnya belum keluar,” ujarnya.

Pengganti Dadang ini mengatakan pihak penguji bahkan telah minta maaf atas keterlambatan hasil uji lab-nya. Penyebabnya karena banyak antrian uji lab dari berbagai daerah. Ia berharap hasil lab segera terbit dalam waktu dekat, dan semua dokumen langsung diserahkan ke ULP untuk proses lelang.

Mendapat sorotan bertubi-tubi, Walikota Tanjungpinang Syahrul akhirnya buka bicara soal ribut-ribut seragam sekolah gratis, yang menjadi program unggulan pemerintahannya itu, khususnya dibidang pendidkan dalam upaya membangun manusia Tanjungpiang yang berkualitas.

Menjawab wartawan saat ditemui di SMKN 1 Tanjungpinang, Kamis (22/8/2019), Walikota Syahrul mengaku keterlambatan pemberian seragam siswa karena masih mempersiapkan berbagai dokumen yang dibutuhkan. Termasuk uji laboratorium yang disebut Atmadinata.

Menurut Ayah Syahrul, panggilan akrab Walikota Tanjungpinang itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang dari awal menargetkan seragam sekolah gratis secepatnya direalisasikan. Namun dalam prosesnya ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, sesuai aturan yang berlaku.

Syahrul agaknya kesal saat ditanyai soal keterlambatan seragam gratis. Karena sebelum menyoal baju seragam ini, wartawan terlebih dulu meminta penjelasan Syahrul yang disebut telah mengecewakan pihak KPU terkait penyediaan lahan kantornya.

Dalam hal ini, Syahrul mengaku pihaknya telah menawarkan lahan milik Pemko Tanjungpinang, di Senggarang, pusat pekantoran pemerintahan tersebut, tempat Walikota Syahrul berkantor.

“Tidak hanya KPU, tapi juga Bawaslu dan pihak AURI juga minta lahan. Kita sudah tawarkan di Senggarang,” ujarnya.

Dia mengaku sudah bertemu soal itu, namun piihak KPU, juga Bawaslu dan AURI, belum memberi jawaban. “Kita hanya punya lahan di Senggarang, kalau minta di tengah kota, tidak ada,” sebutnya.

Syahrul lalu meminta klarifikasi atas pernyataan KPU yang menyebut dirinya membohongi KPU soal lahan kantornya. “Dari mana muncul statement itu, mohon diklarifikasilah,” kesalnya.

Kemarahan Syahrul kian terlihat saat wartawan menyinggung nama Ade Angga yang mengkirik baju seragam siswa yang tak kungjung direalisasikan.

Awalnya Syahrul menyebut kritik tersebut sebagai hal biasa karena Dewan punya hak bicara. Hanya saja, katanya, haruslah sama-sama memahami tentang aturannya.

“Kritik biasa karena Dewan itu, Pak Ade Angga itu memang punya hak imunitas dan ngomong, (tapi) salah betul (yang diucapkan) itu belakangan,” katanya.

Namun, Syahrul justru mengkrtik balik Ade Angga. Ia mengatakan Ade Angga juga tau peraturan proses pengadaan baju seragam siswa tersebut. “Cuman Ade Angga kan tau dalam pengadaan baju seragam ada prosesnya, ini uang lantas beli baju, kan tidak. Dia kan tau itu, dia kan ketua tim Ayah (pemenangan di Pilwako Tanjungpinang),” katanya mulai kesal.

Syahrul menjelaskan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan persyaratan-persyaratan untuk proses lelang. “Kita persiapkan dulu dokumennya, prosesnya panjang, ad uji lab, pelelangan, dan harus dikoordinasikan dengan TP4D,” ucapnya.

Terkait uji laboratorium, Syahrul ingin semua spek baju seragam sekolah sama. “Ayah ingin semua speknya (seragam sekolah siswa) sama di semua sekolah,” katanya.

Keterlambatan ini sepertinya sudah sejak awal tahun anggaran baru. Karena Syahrul mengaku saat di zaman Dadang (mantan Kepala Disdik Tanjungpinang) prosesnya tidak berjalan sesuai harapan. “Ketegasan dari dulu, dari mulai Pak Dadang, tapi tak jalan, setelah Pak Atmadinata masuk (menggantikan Dadang) baru ditata ulang,” jelas Syahrul.

Saat ditanya apakah ada solusi dari Dewan yang mengkritik, Syahrul kembali menunjukkan kekesalannya. “Tugasnya ngritik, tugasnya ngritik, imunitasnya itu dia, terlepas benar atau salah yang diucapkan dia,” respon Syahrul terkait kritik Ade Angga.

“Anda tau, dia itu, Ade Angga yang selalu ngomong-ngomong itu, dia itu Ketua Tim Ayah, bukan dia tak tau,” ucap Syahrul. (tr)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here