Manuver Politik Menjelang Pilgub Kepri 2020

213
Tanjungpinang
Soerya Respationo dan Isdianto di Duta Mas, Batam, kediaman pribadi Soerya.

Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kepri 2020 tinggal beberapa bulan lagi. Sudah ada sejumlah nama yang menyatakan maju, demikian partai politik tentu sudah mulai melirik para kandidat yang akan diusung sebagai jagoannya nanti.

Bakal banyak kejutan menjelang perhelatan pesta demokrasi di daerah berbasis maritim itu. Partai-partai politik akan melancarkan manuver demi memuluskan kepentingan politiknya. Sebaliknya para kandidat akan terus bergerilya melobi para petinggi partai untuk mendapatkan dukungan.

Sebagaimana diketahui, tak satupun partai politik yang bisa mengusung sendiri calon gubernur-nya di Pilkada Kepri 2020. PDIP sebagai pemenang Pemilu 2019 di Kepri hanya memperoleh 8 kursi, disusul Golkar yang juga 8 kursi, kemudian PKS dan Nasdem masing-masing 6 kursi. Sementara syarat pendaftaran pasangan calon di KPU, paling tidak 9 perwakilan di DPRD Kepri.

Perolehan kursi partai politik di DPRD Kepri, hasil pemilu 2019:

PDI Perjuangan (8 kursi)
Partai Golkar (8 kursi)
PKS (6 kursi)
Partai NasDem (6 kursi)
Partai Gerindra (4 kursi)
Partai Demokrat (4 kursi)
Hanura (3 kursi)
PKB (3 kursi)
PAN (2 kursi)
PPP (1 kursi)

Walikota Tanjungpinang Syahrul

Melihat 4 besar perolehan kursi di atas, sangat memungkinkan untuk mengajukan 4 pasangan calon di Pilgub Kepri, paling tidak 3 pasangan calon. PDIP, Golkar, PKS dan Nasdem paling berpeluang mengajukan kadernya atau jagoannya sebagai calon gubernur. Namun tidak menutup kemungkinan partai-partai politik justru bermanuver untuk memenangkan satu pasangan calon, bisa lewat calon tunggal atau mengunci 2 pasangan calon, dengan memunculkan pasangan calon “boneka”. Semua tergantung komunikasi politik dari partai-partai untuk membangun koalisi.

Dari pantauan suluhkepri.com, dalam beberapa bulan terakhir ini terlihat sejumlah figur telah memperkenalkan diri untuk maju di Pilkada Kepri 2020, dengan aktif lawatan diberbagai kegiatan kemasyarakatan bahkan ada yang sudah terang-terangan mendeklarasikan diri, sebagian lagi menebar baliho dan spanduk sang calon yang dipajang disepanjang jalan.

Tak ketinggalan para relawannya melalui tim-tim kecil yang dibentuk, juga mulai gencar mempromosikan para jagoannya di medsos dengan mengungkap kelebihan-kelebihan orang yang didukungnya. Siapa saja mereka?

Sejauh ini nama yang cukup getol dikenalkan ke publik adalah Ismeth Abdullah dan Huzrin Hood. Ismeth teelihat gencar lawatan pada kegiatan warga di berbagai tempat. Huzrin sendiri sudah mendeklarasikan diri untuk maju di Pilgub Kepri.

Ismeth Abdullah dan Apri Sujadi

Sayangnya kans mereka untuk mendapat tiket ke pentas Pilkada Kepri 2020 tak semulus langkah figur dari partai politik, karena Ismeth dan Huzrin memang bukan politisi dan tidak memiliki partai politik sebagai kendaraan pengusung ke Pilgub Kepri. Namun bisa saja ada partai politik yang melirik mereka, karena keduanya termasuk tokoh berpengaruh di Kepri.

Ismeth adalah mantan ketua Otorita Batam juga mantan Gubernur Kepri. Sedangkan Huzrin Hood pernah menjabat Bupati Kepri (sekarang bernama kabupaten Bintan setelah pemekaran daerah), dia juga dikenal sebagai tokoh sentral perjuangan provinsi Kepri. Hanya saja belum diketahui pasti ke partai politik mana saja Ismeth dan Huzrin telah melakukan komunikasi politik terkait pencalonan mereka.

Informasi yang santer, Ismeth sedang menjalin komunikasi politik dengan Golkar dan Demokrat. Kabarnya Ansar Ahmad sang ketua Golkar Kepri itu tidak berniat maju. Mantan Bupati Bintan 2 periode itu, memilih fokus menjadi anggota DPR RI, yang baru saja dilantik untuk masa jabatan 2019-2024. Begitu juga ketua Demokrat Kepri Apri Sujadi tidak akan maju di Pilgub Kepri tahun depan. Bupati Bintan itu disebut ingin bertarung di Pilbup Bintan untuk periode kedua.

Sementara Huzrin disebut akan maju dari calon independen namun belakangan dia juga mendaftarkan diri ke partai Nasdem Kepri. Menurut Huzrin langkah itu dilakukan untuk menunjukkan sikap keseriusannya untuk maju di 2020. Karena diketahui ia sudah 2 kali kandas mendapatkan tiket ke Pilgub Kepri.

Selain Ismeth dan Huzrin, ada sejumlah nama yang digadang-gadang maju ke Pilgub Kepri, diantaranya Soerya Respationo dan Isdianto. Di awal pekan kedua bulan ini, kedua kader PDIP itu menjadi perhatian publik yang mendaftarkan diri sebagai calon gubernur PDIP di Pilkada Kepri 2020. Soerya adalah ketua DPD PDIP Kepri, dan Isdianto, yang juga Plt. Gubernur Kepri itu, duduk di Dewan Pertimbangan PDIP Kepri.

M. Rudy, Walikota Batam

Sejauh ini belum diketahui pasti apakah Soerya dan Isdianto akan maju berpasangan. Memang bukan perkara sulit bagi keduanya untuk maju berpasangan karena hanya kurang 1 kursi saja untuk memenuhi syarat pendaftaran pasangan calon. Kabarnya PDIP dan PKB (3 kursi) telah sepakat berkoalisi untuk mengusung Soerya – Isdianto. Namun hal yang tak kalah paling penting dipertimbangkan adalah bagaimana basis dukungan dari rakyat Kepri untuk keduanya yang berasal dari partai yang sama.

Soal peluang, memang popularitas dan elektabilitas Soerya Respationo tak diragukan lagi, dan ia termasuk yang paling diunggulkan memenangkan pertarungan Pilgub Kepri 2020. Sebagai politisi senior, Soerya diyakini punya strategi handal untuk bisa menang karena sudah berpengalaman. Dia pernah 2 kali mengikuti Pilkada Kepri.

Yang pertama tahun 2009, Soerya yang mendampingi Alm. HM. Sani menjadi pemenang dan keduanya menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri 2009-2014. Kemudian di Pilkada Kepri 2015, Soerya kembali maju yang berpasangan dengan Ansar Ahmad, sayangnya mereka kalah melawan pasangan HM. Sani-Nurdin.

Selain Soerya, Isdianto, Ismeth dan Huzrin, ada nama lain yang tak kalah populernya yaitu Muhammad Rudi, yang saat ini menjabat Wali Kota Batam. Rudi adalah politisi Nasdem yang menjabat Sekretaris Nasdem Kepri.

Bicara peluang ke pentas Pilgub Kepri, Rudi jauh lebih berpeluang dibandingkan Ismeth, Huzrin, dan Isdianto. Bahkan diatas kertas banyak yang yakin jika Rudi benar maju akan menjadi penantang berat Soerya Respationo di pertarungan perebutan kursi Kepri 1.

Ini tidak terlepas dari kepemimpinannya sebagai Wali Kota Batam dalam 5 tahun terkhir ini, dan sebelumnya juga menjabat Wakil Wali Kota Batam. Dimana hampir separuh penduduk provinsi Kepri berada di kota Batam. Sehingga calon yang mendapat dukungan kuat dari warga Batam akan lebih berpeluang menang di Pilgub Kepri.

Huzrin hood dalam sebuah kegiatan konpres

Namun kalkukator politik bukanlah hitungan matematika. Politik sangat dinamis dan bisa berubah dengan hitungan detik karena semua tergantung kesepakatan partai politik yang berbalut kepentingan. Bisa saja Nasdem meminta Rudi untuk tetap maju di Pilwako Batam, mengingat baru 1 periode menjabat Wali Kota Batam.

Belakangan muncul nama Syahrul, ketua Gerindra Kepri yang saat ini Wali Kota Tanjungpinang. Syahrul disebut mendapat perintah dari Prabowo Subianto sang Ketum Gerindra, untuk ikut bertarung di Pilgub Kepri 2020.

Peluang Syahrul untuk maju terbuka lebar karena partai Gerindra punya 4 kursi di DPRD Kepri. Hanya saja jika Syahrul kukuh maju di Pilgub Kepri, jelas akan punya beban moral terhadap rakyatnya, warga Tanjungpinang. Sebab, pemerintahan Syahrul di kota Tanjungpinang baru berjalan 1 tahun, sedangkan kontrak yang diterima dari rakyatnya selama 5 tahun, dan masih tersisa 4 tahun lagi.

Bukan soal Syahrul bisa menjabat kembali jika nanti kalah di Pilgub Kepri, justru publik Tanjungpinang akan memandang Syahrul sebagai pemimpin yang menghindar dari tanggungjawab untuk membangun kota Tanjungpinang sebagaimana janji politiknya saat berkampanye.

Tentu saja ada konsekuensinya, Syahrul bisa saja dibanjiri suara sumbang bernada hujatan ketika ia benar-benar maju di Pilgub Kepri, yang sekaligus merobohkan popularitas dan elektabilitasnya dihadapan rakyatnya.

Soerya Respationo saat daftar Cagub Kepri di Kantor PDIP Kepri, Tanjungpinang

Tentu saja menjadi dilema bagi Syahrul, di satu sisi harus memikirkan nasib rakyatnya, di sisi lain, dia harus patuh perintah partai. Saat ini memang sosok Syahrul cukup seksi dan perhatian dikalangan politisi Kepri. Sepak terjangnya di kancah politik sangat jempol karena meski berlatar guru ia bisa mendapat kepercayaan dari Prabowo untuk menahkodai Gerindra Kepri, dan tangguh bertarung di Pilwako Tanjungpinang 2018, hingga terpilih sebagai Wali Kota Tanjungpinang, 2018-2023.

Nama Bupati Bintan Apri Sujadi juga disebut-sebut masuk daftar di Pilgub Kepri 2020. Posisinya sebagai ketua Demokrat Kepri memang sangat mendukung dengan 4 kursi di DPRD Kepri. Sama dengan Syahrul, Apri juga berpeluang besar maju di Pilgub Kepri. Akan tetapi meski kuat dukungan, Apri tampaknya lebih memilih bertarung di Pilbup Bintan, untuk periode kedua.

Jika Soerya, Isdianto, Ismeth, Huzrin, Rudi, Syahrul dan Apri benar-benar maju di Pilgub Kepri, kemungkinan akan muncul 4 pasangan calon atau setidaknya 3 pasangan calon di Pilgub Kepri. Pertarungan akan lebih mudah, Soerya dan Rudi disebut-sebut lebih berpeluang menang.

Nah, bagaimana jika Rudi tetap maju di Pilwako Batam, Apri di Pilbup Bintan, dan Syahrul mengurungkan niat maju dengan mengusulkan figur lain lewat koalisi partai, maka disinilah akan sagat terasa manuver partai politik jelang Pilgub Kepri 2020. Bisa saja hanya memunculkan 2 pasangan calon gubernur.

Posisi ini jelas sangat menguntung Soerya Respationo dan Isdianto, karena peluang mereka tidak saja hanya terbuka lebar untuk mendapatkan tiket namun juga untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi KEPRI 1.

Di pihak Ismeth dan Huzrin Hood, sepanjang tidak ada manuver lain dari partai politik untuk memunculkan figur baru untuk diusung sebagai jagoannya, keduanya juga beperluang sama untuk menjadi pemimpin Kepri, 5 tahun ke depan.

Sebab, pertarungan 2 pasangan calon atau heat to heat diketahui cukup seru, ketat dan sangat-sangat sensitif, karena hal-hal kecil saja bisa menjadi senjata ampuh untuk merusak popularitas dan elektabilitas lawan yang sudah bersusah payah merawatnya, dan bukan pekerjaan mudah untuk kembali mendongkraknya karena membutuhkan waktu untuk memulihkannya.

Namun jika komproni politik di tingkat elit partai berkehendak lain dengan memunculkan figur baru, bisa saja memberi warna baru yang sangat menantang atau justru sebaliknya hanya sirkus politik semata dengan menyuguhkan pasangan calon “boneka”.

Begitulah panggung politik di pesta demokrasi rakyat dalam pemilihan pemimpin baik Pilpres maupun Pilkada, cukup panas karena tak terlepas dari manuver politik, termasuk di Pilgub Kepri 2020 yang bakal banyak kejutan seiring waktu berjalan. (tr)

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here