Medco E&P Dorong Kebangkitan Ekonomi Langir Lewat Budidaya Ketam dan Madu Kelulut

Anambas46 Dilihat

ANAMBAS – Program SUAR (Scaling-Up Anambas Rural Smallholder) yang dijalankan Medco E&P Natuna Ltd. sejak September 2024 mulai menunjukkan hasil nyata bagi masyarakat Desa Langir. Melalui pendekatan penguatan ekonomi pesisir dan konservasi mangrove, program ini memadukan budidaya kepiting bakau dan madu kelulut.

Program SUAR dirancang sebagai pendampingan jangka panjang dengan menekankan konsep silvofishery, di mana keramba kepiting dan stup lebah ditempatkan di ekosistem mangrove tanpa merusak lingkungan. Selain pelatihan teknis, program ini menghidupkan kembali potensi desa yang selama ini belum tergarap.

Melalui Sekolah Lapangan (SL), sebanyak 39 warga, termasuk perempuan dan pemuda mengikuti praktik langsung mulai dari penataan keramba, perawatan stup, hingga manajemen produksi.

Manager Field Relations & Community Enhancement Medco E&P Natuna, Kemal A. Massi, menegaskan bahwa keberhasilan program ditopang oleh keterlibatan aktif masyarakat.

Seorang warga memperlihatkan budidaya madu kelulut. (Latif/SK)

Sebagai penggerak ekonomi baru desa, program ini juga membentuk Kelompok Pembudidaya Ketam dan Peket (Pokdaya). Seluruh target berhasil dicapai 100 persen, termasuk distribusi 200 bibit kepiting bakau dan 125 stup madu kelulut kepada warga.

“Keberhasilan program SUAR lahir dari keterlibatan aktif masyarakat. Dengan terbentuknya Pokdaya dan terpenuhinya seluruh target, mulai dari distribusi 200 bibit kepiting hingga 125 stup kelulut. Kita melihat bagaimana warga mampu menjadi penggerak ekonomi baru desa,” ujar Kemal A. Massi, Jumat (28/11/2025)

Kepala Desa Langir, Hendrison ST, mengapresiasi hadirnya program yang dinilai membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi warganya.

“Program SUAR bukan sekadar program bantuan, tetapi jembatan menuju kemandirian ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Langir,” kata Hendrison ST, Kepala Desa Langir.

Dampak paling nyata terlihat dari para peserta. Syambudi (34) kini menjadi pembudidaya madu kelulut produktif. Dalam periode April–Oktober 2025, ia telah menjual 71 botol madu senilai Rp3.550.000, serta memperoleh enam koloni lebah baru senilai sekitar Rp4.800.000.

Sementara itu, Nopical, ketua kelompok budidaya kepiting, menyebut metode terarah membuat hasil panen lebih stabil dengan ukuran ketam yang bisa mencapai 800 gram.

Keterlibatan perempuan dan generasi muda juga memberi warna baru bagi program ini. Mereka aktif dalam perencanaan, produksi, hingga pengelolaan hasil.

Kemal mengaskan bahwa keberlanjutan hanya mungkin dicapai jika ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan berjalan seimbang.

Program SUAR di Desa Langir membuktikan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan mampu menghadirkan model pengelolaan sumber daya yang produktif sekaligus menjaga ekosistem mangrove.

(Latif/Anambas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *