Perjuangan Jumaga Nadeak Membangun Kreativitas Kerohanian Kepri ke Tingkat Nasional

Tanjungpinang248 Dilihat

TANJUNGPINANG – Bagi sebagian orang, Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi), mungkin hanya dipandang sebagai ajang perlombaan paduan suara. Namun, bagi mereka yang berada di baliknya, Pesparawi merupakan ruang untuk menumbuhkan bakat, kreativitas dan pembinaan kerohanian masyarakat Kristiani hingga mampu tampil membawa nama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ke tingkat nasional.

Perjalanan panjang itulah yang dikisahkan Mider Sinaga, Humas Lembaga Pengembangan Paduan Suara Gerejawi Daerah (LPPD) Kepri. Ia menilai kepemimpinan Jumaga Nadeak sebagai Ketua LPPD Kepri telah memberikan warna tersendiri dalam upaya mengembangkan kreativitas kerohanian sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat Kristiani Kepri untuk berkiprah di panggung nasional.

Jumaga Nadeak sendiri merupakan anggota DPRD Kepri yang telah menjabat selama empat periode berturut-turut. Dua dari empat periode tersebut, ia dipercaya sebagai Ketua DPRD Kepri. Menurut Mider, pengalaman dan jejaring yang dimiliki Jumaga turut membantu perjuangan LPPD dalam mendapatkan dukungan pemerintah daerah untuk pembinaan hingga keberangkatan kontingen Kepri.

“Kalau kita melihat perjalanan Pak Jumaga, perjuangannya bukan hanya soal memberangkatkan kontingen. Beliau ingin anak-anak Kepri memiliki ruang untuk mengembangkan talenta, kreativitas dan kerohanian sampai ke tingkat nasional,” ujar Mider dalam keterangannya yang diterima redaksi, Kamis (20/8/2026).

Selama kepemimpinan Jumaga, LPPD Kepri sudah dua kali menghadapi perhelatan Pesparawi Nasional yang digelar di luar daerah, yakni di Yogyakarta pada 2022 dan Manokwari, Papua Barat, pada 2026. Pada dua momentum tersebut, Kepri tetap berupaya hadir dengan mengirimkan kontingen sebagai wakil daerah di ajang nasional.

Kegiatan audisi peserta dari kabupaten kota yang salah satunya PSW Tanjungpinang, utusanLPPD Tanjungpinang. ist

Mider menjelaskan, proses membawa kontingen ke Pesparawi Nasional bukan pekerjaan sederhana. Dibutuhkan persiapan panjang, mulai dari pembinaan, latihan dan audisi peserta kabupaten dan kota, serta akomodasi, transportasi hingga kebutuhan keberangkatan. Semua itu membutuhkan dukungan anggaran yang tidak sedikit.

Pada Pesparawi Nasional di Yogyakarta 2022, misalnya, LPPD Kepri mendapat dukungan anggaran sekitar Rp2 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Kepri melalui dana hibah untuk kegiatan Pesparawi. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan kontingen yang telah melalui proses audisi dan ditetapkan mewakili Kepri.

Menurut Mider, sekitar 300 peserta beserta official diberangkatkan untuk mengikuti 12 kategori yang dipertandingkan. Bagi Mider, kemampuan memberangkatkan seluruh kategori tersebut merupakan bentuk perhatian terhadap talenta masyarakat Kristiani Kepri sekaligus komitmen agar Kepri dapat tampil maksimal di panggung nasional.

“Ini sebuah perjuangan dan kepedulian dari seorang Jumaga untuk seluruh kontingen Kepri yang diberangkatkan ke Pesparawi Nasional. Tidak semua orang bisa melakukan hal seperti itu,” kata Mider.

Setelah Pesparawi Nasional di Yogyakarta selesai, LPPD Kepri kembali mempersiapkan diri menghadapi Pesparawi Nasional berikutnya yang ditetapkan berlangsung di Manokwari. Pada 2024, LPPD Kepri menggelar audisi di Hotel Planet yang diikuti LPPD kabupaten dan kota, antara lain Batam, Tanjungpinang, Karimun dan Bintan, dengan jumlah peserta sekitar 600 orang.

Rapat panitia bersama peserta Pesparawi ke Manokwari, dan Ketua LPPD Tanjungpinang Ria Ukur Tondang, turut hadir dalam rapat tersebut. ist

Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan fasilitas penginapan dan transportasi. Setelah proses audisi selesai, ditetapkan para juara pada sejumlah kategori, termasuk PSRP, PSDC, PSW, PSP, Solo Pria Remaja dan Solo Wanita. Para pemenang juga memperoleh hadiah uang tunai serta uang pembinaan bagi LPPD yang meraih prestasi.

Mider mengatakan, pada saat itu Jumaga juga menyampaikan bahwa seluruh juara akan diupayakan diberangkatkan ke Manokwari apabila anggaran mencukupi. Namun, apabila anggaran tidak memungkinkan, panitia harus melakukan penyesuaian dan menentukan kategori yang dapat diberangkatkan.

Persiapan berlanjut pada 2025. LPPD Kepri kembali mengajukan dukungan anggaran kepada Pemerintah Provinsi Kepri sekitar Rp2 miliar, mengingat perjalanan menuju Manokwari membutuhkan biaya lebih besar. Dalam berbagai rapat bersama LPPD kabupaten dan kota, dibahas anggaran, persiapan serta kebutuhan peserta dan official. Dalam setiap rapat kembali disampaikan keberangkatan seluruh peserta tergantung ketersediaan anggaran.

Memasuki 2026, terjadi efisiensi anggaran daerah, sehingga dana hibah yang cair hanya sekitar Rp1,4 miliar. Dana tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, antara lain tiket peserta ke Monokowari, kaos, uang makan, uang saku, sewa kantor, listrik, air serta kebutuhan administrasi LPPD.

Menurut Mider, pemesanan tiket telah dilakukan sejak Maret dan pembayaran kepada pihak travel telah dilunasi pada Mei. Namun persoalan mulai muncul ketika proses keberangkatan dimulai.

Mider mengatakan, pada 18 Juni 2026 kontingen pertama mulai diberangkatkan, dan sempat mengalami kendala soal tiket. Sebab, pihak travel tidak menyediakan tiket untuk seluruh peserta dan official sebagaimana yang diharapkan. Kondisi ini akhirnya berdampak pada perjalanan kontingen PSW Tanjungpinang yang gagal berangkat ke Monokowari.

Panitia Pesparawi Kepri saat berkunjung ke LPPD Tanjungpinang untuk menyosialisasikan ketentuan pelaksanaan Pesparawi Nasional 2026. Ist

Mider mengungkapkan, sejak persoalan tersebut muncul, LPPD Kepri terus berkomunikasi dengan pihak LPPD Tanjungpinang mengenai perkembangan situasi. Menurutnya, komunikasi berlangsung sejak 19 Juni hingga 24 Juni 2026. Pada saat yang sama, Jumaga Nadeak dan pengurus LPPD Kepri terus berkonsentrasi dan sedaya upaya mencari penyelesaian untuk keberangkatan kontingen. Meski pada akhirnya gagal berangkat.

Melalui kesempatan ini, Mider meminta agar kegagalan 27 anggota PSW Tanjungpinang melanjutkan perjalanan ke Manokwari tidak serta-merta dijadikan sebagai kesalahan mutlak Jumaga Nadeak. Menurut dia, persoalan tersebut perlu dilihat secara utuh, termasuk persoalan penyediaan tiket oleh pihak travel dan rangkaian komunikasi yang berlangsung sebelum keberangkatan.

“Tidak pernah terpikir dalam benak Pak Jumaga untuk mengabaikan, apalagi menelantarkan 27 anggota PSW. Beliau juga merasakan kekecewaan. Justru sejak awal beliau selalu mengawal dan konsen terhadap keberangkatan kontingen Kepri,” tegas Mider.

Mider menuturkan, keputusan untuk meminta PSW tidak melanjutkan perjalanan ke Jakarta, sebelum kepastian tiket Batam-Manokwari dan Manokwari-Batam diperoleh, menurutnya, berkaitan dengan pengalaman yang dialami kontingen sebelumnya.

Namun, terjadi perbedaan pandangan ketika sebagian anggota PSW berkomunikasi langsung dengan pihak travel dan tetap melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Setelah tiba di Jakarta, perjalanan menuju Manokwari tidak dapat dilanjutkan karena tiket tidak tersedia.

“Kalau ada kekhilafan dalam proses ini, mari kita lihat sebagai bahan evaluasi. Jangan sampai satu persoalan kemudian menjadi alasan untuk memecah hubungan dan merusak kebersamaan yang sudah dibangun selama ini,” ujar Mider.

Ia menjelaskan bahwa panitia sejak awal tetap memberikan perhatian terhadap kontingen yang akan diberangkatkan. Diantaranya, fasilitas pada acara pelepasan yang digelar di Batam. Panitia memberikan fasilitas kepada PSW Tanjungpinang berupa penginapan satu malam serta tiket kapal ferry pulang pergi Tanjungpinang-Batam. Demikian saat hari keberangkatan.

“Namun Pak Jumaga tidak pernah menunjukkan keegoan. Dalam menghadapi persoalan ini, beliau justru mengambil sikap tenang dan damai. Fokus beliau dan pengurus LPPD adalah mencari penyelesaian, termasuk menekan pihak travel agar persoalan tiket dapat dipertanggungjawabkan,” kata Mider.

Panitia bahkan telah mengambil langkah hukum untuk menekan pihak travel dengan membuat laporan ke kepolisian terkait persoalan tiket tersebut. Langkah ini dilakukan agar persoalan dapat ditelusuri dan pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.

Acara pelepasan peserta yang mewakili Kepri ke Pesparawi Nasional, di Batam, 16 Juni 2026. ist

Mider Sampaikan Permohonan Maaf, Minta Persoalan PSW Jangan Jadi Pemicu Perpecahan

Mewakili Ketua dan pengurus LPPD Kepri serta panitia keberangkatan, Mider juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam seluruh rangkaian persiapan dan keberangkatan terdapat kekhilafan yang menimbulkan kekecewaan.

“Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Jika ada khilaf, mohon dimaafkan,” pintanya.

Ia kembali berharap agar persoalan kegagalan PSW Tanjungpinang ke Manokwari tidak menjadi titik perpecahan di antara sesama. Menurut Mider, semua pihak perlu duduk bersama, melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Jangan karena persoalan ini kemudian kita saling menjauh dan terpecah. LPPD harus tetap kita dukung, karena yang kita perjuangkan bukan hanya satu keberangkatan, tetapi bagaimana anak-anak Kepri khsusnya Kristiani memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kerohanian hingga ke tingkat nasional,” ujarnya.

Mider menilai perjalanan LPPD Kepri di bawah kepemimpinan Jumaga Nadeak patut dilihat secara utuh. Dari dua kali keberangkatan ke Pesparawi Nasional, pelaksanaan audisi, pembinaan ratusan peserta hingga perjuangan mendapatkan dukungan dana hibah dari APBD Kepri, menurutnya, sebuah kerja panjang  dan kepedulian yang melibatkan banyak pihak dan layak diapresiasi.

“Harapan kami ke depan bukan mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi bagaimana persoalan ini menjadi pelajaran. Pak Jumaga sudah berjuang agar Kepri tetap memiliki wakil di Pesparawi Nasional. Mari kita jaga kebersamaan dan dukung LPPD supaya pembinaan kerohanian dan kreativitas masyarakat Kristiani Kepri dapat terus berlanjut dan mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,” tutup Mider.

(Tigor Raja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *