Akademisi SAAS Pahang Kagumi Manuskrip Pulau Penyengat

Kepri341 Dilihat

KEPRI – Akademisi dari Universiti Al-Qur’an Al-Sultan Abdullah Ahmad Syah Pahang (SAAS Pahang) mengungkapkan kekaguman mereka terhadap kekayaan manuskrip bersejarah yang tersimpan di Pulau Penyengat.

Kekaguman tersebut disampaikan dalam jamuan makan malam yang digelar Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, untuk menyambut rombongan SAAS Pahang di Gedung Daerah, Tanjungpinang, Jumat (10/4/2026).

Rombongan dipimpin langsung oleh Naib Canselor SAAS Pahang, Mohd Zawavi Bin Zainal Abidin, yang menilai kunjungan ke Pulau Penyengat memberikan pengalaman akademik yang sangat berharga.

Ia menyebut manuskrip peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yang masih terjaga hingga kini menjadi sumber penting dalam memperdalam kajian sejarah dan literasi Melayu.

Menurutnya, kekayaan intelektual yang tersimpan di Pulau Penyengat merupakan aset budaya yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia Melayu secara luas.

Akademisi dari Universiti Al-Qur’an Al-Sultan Abdullah Ahmad Syah Pahang (SAAS Pahang). SK

“Kami sangat terkesima dengan manuskrip yang ada di Pulau Penyengat. Ini adalah khazanah luar biasa yang harus terus dijaga dan dikembangkan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan kesiapan pihaknya untuk menjalin kerja sama dengan Yayasan Kebudayaan Inderasakti dalam pengembangan serta kajian manuskrip peninggalan Kerajaan Riau-Lingga.

Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada pengembangan tulisan Jawi atau Arab Melayu yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat Melayu di Indonesia dan Malaysia.

Dalam kesempatan tersebut, rombongan SAAS Pahang turut mengundang putra-putri Kepulauan Riau untuk melanjutkan pendidikan di universitas tersebut sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia.

Sebelumnya, rombongan juga melakukan kunjungan akademik ke STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau sebagai bagian dari rangkaian agenda di daerah tersebut.

Menanggapi hal itu, Gubernur Ansar Ahmad menyambut baik rencana kerja sama lintas negara dalam bidang pendidikan dan kebudayaan tersebut.

Ansar menegaskan bahwa Pulau Penyengat memiliki posisi penting sebagai pusat perkembangan sastra Melayu, termasuk lahirnya karya monumental Gurindam Dua Belas.

Ia juga mengungkapkan rencana Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk membangun monumen Bahasa Indonesia di Pulau Penyengat sebagai simbol sejarah lahirnya bahasa persatuan.

Menurutnya, kolaborasi internasional seperti ini menjadi langkah strategis dalam menjaga, mengembangkan, serta menghidupkan kembali warisan budaya Melayu agar tetap relevan di era modern.

Melalui pertemuan tersebut, diharapkan terjalin kerja sama berkelanjutan antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan SAAS Pahang dalam pelestarian manuskrip, penguatan budaya, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *