KEPRI – Konflik geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas sektor pariwisata global, termasuk Indonesia. Ketegangan ini dinilai berpotensi mengganggu mobilitas wisatawan internasional serta konektivitas penerbangan lintas negara yang selama ini menjadi tulang punggung industri pariwisata.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam webinar Tourism Under Fire: Menyoroti Kerentanan Sektor Wisata Akibat Eskalasi Konflik Perang Internasional yang digelar Ikatan Alumni NHI Bandung, Senin (16/3/2026). Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad.
Menurut Widiyanti, sektor pariwisata sangat bergantung pada kelancaran mobilitas manusia antarnegara. Gangguan sekecil apa pun dalam rantai mobilitas global akan berdampak langsung terhadap arus kunjungan wisatawan.
Ia menegaskan bahwa faktor geopolitik, selain aspek ekonomi dan logistik, kini menjadi variabel penting yang memengaruhi pergerakan wisatawan dunia. Ketika akses perjalanan terganggu, maka minat wisatawan untuk bepergian pun ikut menurun.
Kawasan Timur Tengah sendiri memiliki peran strategis sebagai hub penerbangan internasional yang menghubungkan wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Asia, termasuk Indonesia. Posisi ini membuat kawasan tersebut sangat krusial dalam menjaga stabilitas jaringan transportasi global.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, maskapai penerbangan mulai melakukan penyesuaian rute untuk menghindari wilayah udara yang terdampak konflik. Kondisi ini tidak hanya memperpanjang waktu tempuh, tetapi juga meningkatkan biaya perjalanan.
Kenaikan biaya tersebut berpotensi menekan permintaan perjalanan wisata internasional. Akibatnya, negara tujuan wisata seperti Indonesia bisa mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Padahal, sebelum eskalasi konflik terjadi, kinerja sektor pariwisata Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang sangat positif. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta atau tumbuh 10,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari capaian tersebut, sektor pariwisata berhasil menyumbang devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS. Angka ini menegaskan bahwa pariwisata tengah berada pada momentum kebangkitan pascapandemi.
Wisatawan dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika tercatat memberikan kontribusi signifikan, dengan total lebih dari 3,3 juta kunjungan. Meski hanya sekitar 21,7 persen dari total wisatawan, kontribusi devisanya mencapai 34,7 persen.
Kementerian Pariwisata memperkirakan eskalasi konflik dapat berdampak pada penurunan 4.700 hingga 5.500 kunjungan wisatawan mancanegara per hari. Secara ekonomi, potensi kerugian diperkirakan berkisar antara Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar setiap hari.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan secara nasional, tetapi juga menjalar ke sektor turunan seperti akomodasi, restoran, transportasi wisata, hingga pelaku UMKM di berbagai destinasi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah terus mewaspadai dampak konflik geopolitik, khususnya yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, terhadap industri pariwisata nasional.
Menurutnya, jika tidak diantisipasi dengan baik, Indonesia berpotensi kehilangan hingga 5.500 wisatawan mancanegara per hari dengan nilai devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari.
Airlangga menjelaskan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu motor penggerak ekonomi nasional. Sepanjang 2025, kontribusinya mencapai Rp945,7 triliun atau sekitar 3,97 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta menyerap sekitar 25,91 juta tenaga kerja.
Namun tekanan mulai terasa, terutama pada sektor penerbangan internasional. Hingga 10 Maret 2026, tercatat gangguan pada sembilan rute internasional yang berdampak pada sekitar 47.000 penumpang.
Situasi ini diperparah dengan kenaikan harga avtur yang meningkatkan biaya operasional maskapai. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga tiket pesawat secara global.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah perluasan kebijakan bebas visa kunjungan bagi negara potensial serta penguatan pasar wisata domestik sebagai penopang utama.
Selain itu, pemerintah juga memberikan stimulus transportasi menjelang libur Lebaran, seperti diskon tiket pesawat rata-rata 18 persen serta potongan harga transportasi laut dan kereta api hingga 30 persen.
Upaya promosi Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan terjangkau juga terus digencarkan. Pemerintah turut mengembangkan potensi destinasi bagi digital nomad di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Kepulauan Riau, dan Bali.
Airlangga menekankan bahwa kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama agar sektor pariwisata Indonesia tetap tangguh dan adaptif di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu.
(red)






