Bedah Buku “Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar” Karya Rajabul Amin, Menyingkap Sejarah Kepri

Tanjungpinang567 Dilihat

TANJUNGPINANG – Buku “Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar” karya Rajabul Abdul Amin menyajikan narasi sejarah dan komunikasi budaya Kepulauan Riau (Kepri) yang selama ini masih minim terdokumentasi secara luas.

Bedah buku karya penulis muda asal Kepri tersebut digelar dengan tema “Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada”, bertempat di Studio Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kota Tanjungpinang, Kamis (8/1/2026).

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah yang diwakili Asisten I Pemerintahan dan Kesra Setdako Tanjungpinang, Tamrin Dahlan, hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut.

Tamrin menilai menulis buku terlihat sederhana, namun pada praktiknya membutuhkan ketekunan, keberanian, dan konsistensi. Banyak orang, kata dia, bahkan belum mampu menyelesaikan satu paragraf tulisan.

Ia mengaku bangga dengan lahirnya penulis muda Kepri yang berani mengangkat sejarah daerahnya dalam sebuah karya literasi yang utuh dan bernilai.

“Alhamdulillah hari ini lahir seorang penulis muda bernama Rajabul Amin yang mudah-mudahan menjadi pioner dan bagian dari sejarah literasi Kepri di masa mendatang,” ujar Tamrin, dikutip dari laman resmi Pemko Tanjungpinang.

Tamrin optimistis buku “Kala Laut Bicara, Pulau Mendengar” kelak akan dikenal luas dan dicari banyak pembaca, sebagaimana karya Raja Ali Haji yang tetap relevan hingga kini.

Ia juga berpesan agar Rajabul Amin terus berkarya tanpa ragu terhadap hasil akhir, karena setiap tulisan akan menjadi bagian penting dari literasi sejarah.

“Raja Ali Haji pun tak pernah menyangka Gurindam Dua Belas akan abadi hingga hari ini. Maka teruslah menulis dan berkarya, semoga Allah memudahkan setiap ikhtiar,” harapnya.

Sementara itu, Rajabul Amin menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemerintah Kota Tanjungpinang atas dukungan dan ruang yang diberikan dalam pelaksanaan bedah bukunya.

Rajabul menjelaskan, buku tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap minimnya informasi tentang Kepri, sehingga banyak masyarakat di luar daerah belum mengenal sejarah dan kekayaan budayanya.

“Buku ini berangkat dari kegelisahan itu, dengan fokus pada komunikasi budaya di Bumi Segantang Lada,” jelas alumni STAIN Sultan Abdurrahman tersebut.

Selain Tamrin Dahlan, bedah buku ini juga menghadirkan narasumber Nurbaiti Usman Siam, serta diikuti tokoh adat, tokoh masyarakat, kepala perangkat daerah, dan mahasiswa.

(Tr/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *