Media Siber Harus Bertransformasi dari Website ke Algoritma

Batam28 Dilihat

BATAM – Perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi di era media sosial menjadi tantangan besar bagi industri media siber. Persaingan tidak lagi hanya terjadi antarmedia, tetapi juga dengan kreator konten, influencer, kanal komunitas, hingga platform digital global yang menguasai distribusi informasi.

Fenomena tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Jurnalisme di Era AI bertema “Transformasi Media Siber Menuju Bisnis Berkelanjutan dan Beretika” yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Riau di Hotel Serra, Batam, pada 17 Juni lalu.

Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris SMSI Kepulauan Riau, Zabur Anjasfianto, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Media Siber di Era Media Sosial”.

Zabur menjelaskan bahwa media siber tidak lagi dapat mengandalkan pola lama yang hanya menunggu pembaca datang ke situs berita. Saat ini, sebagian besar audiens memperoleh informasi melalui media sosial yang peredarannya dikendalikan oleh algoritma platform digital.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut perusahaan pers untuk mengubah cara pandang, dari sekadar penyedia berita menjadi pengelola ekosistem informasi yang mampu menjangkau audiens di berbagai platform.

“Media sosial bukan ancaman bagi media siber, melainkan kanal distribusi terbesar yang pernah dimiliki industri pers. Tantangannya bukan melawan perubahan, tetapi bagaimana memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan, membangun kedekatan dengan audiens, dan menciptakan model bisnis yang sehat serta berkelanjutan,” ujarnya.

Praktisi media digital yang juga menjabat Wakil Ketua PWI Kepulauan Riau Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan itu memaparkan empat strategi utama agar media siber tetap bertahan dan berkembang di tengah perubahan lanskap digital.

Keempat strategi tersebut meliputi menghadirkan konten yang berkualitas dan kredibel, memperkuat distribusi multiplatform, membangun komunitas pembaca yang loyal, serta melakukan diversifikasi pendapatan melalui branded content, monetisasi video, penyelenggaraan event, dan berbagai bentuk kerja sama.

Selain itu, Zabur menilai pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, mulai dari riset, transkripsi wawancara, analisis perilaku audiens, hingga produksi konten visual.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan mampu menggantikan nilai-nilai dasar jurnalistik.

“Verifikasi fakta, investigasi, empati, serta independensi adalah aspek yang tetap menjadi kekuatan utama jurnalisme dan tidak bisa digantikan oleh AI,” tegasnya.

Ketua SMSI Provinsi Riau, Luna Agustin, mengatakan perkembangan teknologi harus menjadi momentum bagi media untuk bertransformasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.

Menurutnya, SMSI Riau terus mendorong media siber agar tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga tumbuh menjadi perusahaan pers yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Panitia Workshop dan FGD Jurnalisme di Era AI, Dara Fitria, berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan insan pers mengenai arah perkembangan industri media digital.

Ia menilai media yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku audiens akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap dipercaya publik serta bertahan dalam jangka panjang.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya SMSI Provinsi Riau dalam memperkuat kapasitas media siber menghadapi era media sosial dan kecerdasan buatan, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pers yang adaptif, beretika, profesional, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *