ANAMBAS – DARI RUANG RAPAT DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas, Rabu siang (25/6/2025), terdengar gaung ambisi besar dari Bupati Kepulauan Anambas ANENG, yang berdiri tegak, membawa satu tekad: mempercepat pembangunan wilayah 3T dan perbatasan, agar Anambas tak lagi hanya dikenal sebagai daerah terpencil, tapi menjadi halaman depan Indonesia.
Dalam paparannya, seusai sidang LKPJ tahun anggaran 2024, Aneng melalui Dinas PU selaku OPD teknis, tak hanya bicara rencana. Ia menyodorkan peta jalan pembangunan yang konkret dan lengkap dengan program strategis, termasuk daftar prioritas, hingga siapa yang harus diajak bergandengan tangan untuk mewujudkannya. Semua ini dilakukan untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Aneng merampung program unggulannya itu dalam tajuk: Percepatan Pembangunan Infrastruktur Prioritas Kabupaten Kepulauan Anambas. Namun lebih dari sekadar itu, rencana pembangunan ini adalah dokumen hidup yang berisi puluhan proyek nyata di bidang pendidikan, jalan, air bersih, irigasi, hingga permukiman.
Aneng paham benar bahwa mimpi besar butuh kolaborasi. Oleh karena itu, ia tak ragu mengundang perwakilan kementerian dari PUPR, ATR/BPN, hingga Perumahan Rakyat, agar mereka dapat melihat langsung arah pembangunan yang telah ia rancang bersama jajarannya.
“Kami ingin semua program ini sinkron dengan rencana pusat,” ujar Aneng, usai paparan rencana pembangunan di DPRD. Baginya, efektivitas pembangunan bukan hanya soal anggaran, tapi bagaimana setiap kebijakan pusat bisa menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Anambas yang hidup di garis batas.
Dalam daftar panjang usulan itu, pembangunan jembatan dan jalan lingkar menjadi prioritas. Salah satunya Jembatan Peninting-Konjo sepanjang 1,9 km dengan anggaran Rp594,5 miliar, yang akan menjadi penghubung vital antara bandara, pusat pemerintahan, dan jalur nasional.
Selain itu, ada jalan lingkar untuk Pulau Matak, Mubur, Bajau, dan Impol. Jalan-jalan ini bukan sekadar aspal dan beton, tapi urat nadi baru bagi mobilitas warga, distribusi logistik, dan konektivitas antar pulau yang selama ini terhambat ombak.
pada pembangunan
Untuk urusan air bersih, Aneng menggandeng Balai Wilayah Sungai Sumatera IV. Mereka akan membangun Estuari Dam Temburun, embung Batu Tabir, hingga kolam retensi di Sudi Mampir. Proyek-proyek ini tak hanya akan menjawab kebutuhan dasar, tapi juga memperkuat ketahanan air jangka panjang.
Masalah banjir pun masuk radar. Kolam retensi di Tarempa seluas 7 hektare menjadi bagian penting dari skema mitigasi banjir di ibu kota kabupaten yang kerap dilanda genangan saat musim hujan tiba.
Tak ketinggalan, sektor ekonomi dan lingkungan hidup ikut disentuh. Pasar Inpres Tarempa akan direvitalisasi, TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) Siantan dibangun, serta pengolahan lumpur tinja ditangani secara modern dan ramah lingkungan.
Di sektor pendidikan, Bupati Aneng mengungkapkan rencana pembangunan Sekolah Rakyat dan Madrasah. Ia menyadari bahwa masa depan Anambas tidak hanya dibangun dengan beton, tapi dengan pengetahuan yang dibentuk sejak dini.
Untuk memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal yang layak, usulan pembangunan 500 unit rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) juga diajukan. Bahkan rusun untuk santri di Pesantren Assuniyah Palmatak pun masuk daftar.
Tak hanya fisik, perencanaan pun jadi perhatian. Penyusunan RDTR kawasan Tebang-Ladan diusulkan ke ATR/BPN. Dokumen ini penting untuk percepatan investasi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih terarah di wilayah perbatasan.
Semua program itu, menurut Aneng, adalah bentuk keberanian bermimpi besar untuk daerah kecil. Ia ingin menjadikan Anambas sebagai model kawasan 3T yang tidak hanya bertahan, tapi tumbuh dan menyalip ketertinggalan dengan cepat.
Dukungan pusat menjadi kunci. Dalam Renstra 2025-2029 Kementerian PUPR dan lembaga terkait, usulan Anambas mulai diperhitungkan, mulai dari studi teknis bendungan Matak, hingga pengamanan pantai di lima pulau terluar sebagai benteng NKRI.
Bagi Aneng, membangun Anambas bukan sekadar kerja lima tahun. Ini soal meletakkan fondasi pembangunan Anambas bagi generasi yang akan datang. Sebab di ujung negeri ini, harapan tetap menyala, dan kemajuan serta kesejahteraan hanya dapat dicapai dengan keberanian dan kerja nyata.
(Latif/Red)






