Deteksi Dini DBD dan Malaria, Dinkes Tanjungpinang Tingkatkan Kapasitas Tenaga Kesehatan

Tanjungpinang118 Dilihat

TANJUNGPINANG – Ancaman penyakit tular vektor seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, filariasis, hingga berbagai penyakit zoonosis masih menjadi perhatian serius di Kota Tanjungpinang. Karena itu, upaya deteksi dini terus diperkuat sebagai langkah utama untuk mencegah dan menekan penyebaran penyakit di tengah masyarakat.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes Dalduk KB) Kota Tanjungpinang menggelar Pelatihan Surveilans dan Pengendalian Vektor serta Binatang Pembawa Penyakit bagi tenaga kesehatan puskesmas.

Kegiatan yang berlangsung pada 8–13 Juni 2026 di Aston Tanjungpinang Hotel & Conference Center ini diikuti 30 tenaga kesehatan puskesmas yang terdiri dari petugas surveilans, tenaga kesehatan lingkungan, epidemiolog, dan entomolog.

Kepala Dinkes Dalduk KB Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit tular vektor yang masih berpotensi muncul di berbagai wilayah.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada penanganan kasus, tetapi juga pada kemampuan mendeteksi potensi ancaman sejak dini melalui sistem surveilans yang efektif.

“Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan. Tenaga kesehatan perlu memiliki kemampuan surveilans, pemantauan lapangan, analisis risiko, hingga menentukan langkah pengendalian yang sesuai dengan kondisi wilayah,” ujar Rustam, Senin (8/6).

Ia menjelaskan, tenaga entomolog kesehatan yang bertugas di puskesmas memiliki peran strategis dalam mendukung sistem kewaspadaan dini. Mereka tidak hanya bertanggung jawab mengidentifikasi keberadaan vektor penyakit, tetapi juga mengumpulkan dan menganalisis data lapangan sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Data tersebut, lanjutnya, menjadi acuan penting dalam menentukan langkah pengendalian yang tepat dan efektif sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin meningkatkan kapasitas petugas kesehatan agar mampu mengenali potensi ancaman lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi peningkatan kasus di masyarakat,” katanya.

Pelatihan ini terselenggara melalui kerja sama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kementerian Kesehatan RI di Batam. Kegiatan juga mendapat dukungan narasumber dari Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Batam, Balai Karantina Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau, serta Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi mulai dari kebijakan dan strategi pengendalian vektor, metode surveilans entomologi, teknik identifikasi vektor dan binatang pembawa penyakit, hingga pengelolaan data surveilans.

Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti praktik lapangan guna meningkatkan kemampuan teknis dalam melakukan pemantauan, identifikasi, dan pengendalian vektor secara langsung.

Materi lainnya mencakup penerapan pengendalian vektor terpadu atau Integrated Vector Management (IVM), yang menekankan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan dalam mengendalikan penyebaran penyakit.

Rustam berharap pelatihan tersebut mampu meningkatkan kualitas surveilans di seluruh puskesmas serta memperkuat koordinasi antarinstansi dalam upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.

“Pengendalian penyakit tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Keterlibatan berbagai pihak dan dukungan masyarakat sangat diperlukan agar upaya pencegahan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *