Lestarikan Warisan Melayu, Dekranasda Tanjungpinang Hadirkan Bincang Budaya

Tanjungpinang603 Dilihat

TANJUNGPINANG – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tanjungpinang menghadirkan warna baru dalam rangkaian bazar MTQH XX tingkat Kota Tanjungpinang tahun 2026 melalui kegiatan diskusi santai bertajuk “Bincang Budaya”.

Kegiatan tersebut digelar di stand Dekranasda yang berlokasi di Melayu Square, Selasa (28/4/2026), sebagai bagian dari upaya memperkaya nilai edukasi dalam perhelatan keagamaan dan budaya tersebut.

Turut hadir dalam kegiatan itu Plt. Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang, M. Endy Febri, Sekretaris Dekranasda Kota Tanjungpinang, serta para pengurus Dekranasda.

M. Endy Febri menjelaskan bahwa “Bincang Budaya” merupakan inovasi yang diinisiasi Ketua Umum Dekranasda Kota Tanjungpinang guna memberikan nilai tambah pada pelaksanaan bazar.

Menurutnya, bazar tidak hanya menjadi tempat transaksi dan kunjungan semata, tetapi juga harus mampu menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat dan wawasan bagi masyarakat.

“Ini merupakan ide agar bazar tidak sekadar menunggu pengunjung, tetapi menghadirkan aktivitas edukatif. Hari ini kita mulai, dan dalam beberapa hari ke depan akan ada sharing ilmu kerajinan untuk pelajar serta demo memasak menu tradisional,” ujarnya.

Diskusi yang dikemas santai namun sarat makna ini menghadirkan narasumber dari LAM Provinsi Kepulauan Riau Kota Tanjungpinang, Dato Setia Perdana Rendra Setyadiharja, S.Sos., M.IP.

Dalam pemaparannya, Rendra menegaskan bahwa busana Melayu bukan sekadar tampilan luar, melainkan sarat dengan nilai religius dan sosial yang telah diwariskan turun-temurun.

Ia menjelaskan, baju cekak musang dengan lima kancing melambangkan rukun Islam, sementara baju Teluk Belanga dengan satu kancing mencerminkan keesaan Allah SWT.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya kecenderungan modifikasi busana yang tidak sesuai pakem, seperti perubahan bentuk kancing dan lengan, yang berpotensi mengaburkan keaslian busana Melayu.

Rendra juga menekankan pentingnya kelengkapan dalam berbusana Melayu, termasuk penggunaan kain samping atau sampin berbahan songket maupun pelikat, serta tata cara pemakaiannya yang memiliki makna sosial tersendiri.

Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan peserta dari perwakilan kecamatan dan kelurahan se-Kota Tanjungpinang, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pelestarian budaya.

Salah satu peserta, Hendri, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai memberikan wawasan baru, khususnya terkait teknik penggunaan kain samping dan filosofi tanjak.

Melalui kegiatan ini, Dekranasda Kota Tanjungpinang diharapkan terus memperkuat upaya pelestarian budaya Melayu, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan kearifan lokal di tengah arus modernisasi.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *