Problematika dan Tawaran Solusi Belajar DARING di Era New Normal

Tanjungpinang

Oleh: Aloysius Dhango

Covid-19 membawa efek pada dunia pendidikan. Salah satunya adalah para siswa dan pelajar harus bersekolah dari rumah dgn sistem daring (dalam jaringan) atau online, begitu juga mahasiswa, mesti kuliah dari rumah. Untuk anak-anak, mengumpulkan mereka dalam jumlah banyak di sekolah justru menambah kerumitan dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan penularan covid-19. Oleh sebab itu belajar daring adalah jalan terbaik saat ini.

Melihat fenomena ini, penulis mencoba menyampaikan beberapa perspektif sederhana, sebagai berikut:
1. Belajar secara daring memberi beban tambahan kepada orang tua. Tanggung jawab untuk mendidik anak melekat pada orang tua. Tetapi bertambahnya kebutuhan kuota paket data untuk anak juga hal yg memberatkan orang tua yg pendapatannya berkurang akibat covid. Untuk orang tua yg punya gaji tetap, pendapatan stabil dan menengah ke atas, belajar daring bukan sebuah persoalan. Urusan paket data itu mudah apalagi di rumah ada langganan wifi, tentu sj aman. Untuk orang tua kurang mampu dgn jumlah anak 2-3 org yg belajar daring, jelas pusing. Ya pusing, bukan hanya soal paket data tapi cara membagi HP juga rumit.

2. Belajar secara daring memecah fokus untuk orang tua yg bekerja kantoran. Tidak mungkin setiap saat anak-anak dibawa ke kantor untuk belajar dari sana. Orang tua lebih banyak mengalah korbankan kerjaan demi anak yg belajar. Mempercayakan kepada asisten rumah tangga juga bisa, tetapi tidak semua asisten RT itu melek teknologi. Apalagi belajar daring ini menggunakan aplikasi zoom yg setiap durasi tertentu harus berhenti dan dimulai lagi. Kalau tidak melek teknologi tentu saja akan semakin ribet. Tidak mungkin juga setiap belajar daring anak dititipkan ke tetangga atau teman-temannya.

3. Kebanyakan sekolah tetap memberlakukan pembayaran SPP di masa covid ini walaupun anak-anak belajar daring dari rumah. Alasannya, sekolah membutuhkan biaya untuk membayar operasional sekolah dan guru-guru. Apalagi guru-guru juga harus mempersiapkan materi pembelajaran daring yg akan dikirimkan kepada setiap siswa.

4. Untuk daerah yg kesulitan jaringan internet, belajar daring ini hanyalah menciptakan persoalan-persoalan turunan. Apalagi di daerah yg belum ada jaringan internet atau orang tua yg belum memiliki HP android. Kalau demikian kreativitas para guru dituntut lebih dari kondisi yg normal. Sistem antar jemput materi dijalankan. Tidak heran di daerah2 tertentu, pembelajaran daring ini dianggap sebagai libur sekolah dan libur belajar.

5. Dalam situasi seperti ini, seharusnya kepekaan pemerintah hadir. Terkait dgn ini sepertinya pemerintah Propinsi Kepri, di tkt. kabupaten/kota belum melakukan langkah-langkah tanggap terhadap persoalan belajar daring ini. Belum ada bupati/walikota yg berani alokasikan APBD-nya atau dana covid-nya untuk bantu anak-anak dgn memberikan paket data. Yg minimal saja belum dibuat misalnya bertemu dgn provider Telkomsel untuk bicarakan bagaimana bisa bekerja sama membantu kuota data untuk anak-anak sekolah. Mungkin saja para kepala daerah kita sedang sibuk urus Pilkada dan bersiap-siap untuk Pilkada lagi.

6. Praktik terbaik malah ditunjukkan oleh walikota Mojokerto. Sebagai kado hari anak, ia memberikan paket data gratis kepada 15.640 siswa di daerahnya. Ia bekerja sama dgn PT. Indosat. Paket data itu dirancang hanya untuk keperluan belajar daring, tidak bisa untuk bermain game dll. Seorang ibu walikota ini punya hati untuk anak-anaknya. Kepala-kepala daerah kita juga punya hati. Semoga bisa terbuka untuk melihat apa yg bisa dilakukan walikota Mojokerto.

7. Di manakah wakil rakyat kita? Apakah mereka juga melihat pembelajaran daring ini sebagai persoalan? Atau rasanya aman-aman dan biasa-biasa saja? Mungkin ada yg secara pribadi telah memberi bantuan untuk anak-anak yg belajar daring. Kita beri apresiasi. Tetapi kita butuh gerakan secara bersama2 yg dimotori oleh Kakak2 yg berada di lembaga legislatif untuk bersuara mendesak, mendorong dan meminta pemerintah intervensi paket data gratis untuk belajar daring. Lihat di sana, di Mojokerto. Bisa kan? Kenapa di sini, di daerah kita rasanya sulit? Semoga gebrakan dan terobosan itu segera hadir. Jika belum, bikinlah agenda kunjungan kerja atau studi banding atau konsultasi ke kota Mojokerto. Biar di sana kepedulian dan keberpihakan bisa diasah lagi.

8. Jika saja dana BOS bisa menjawab persoalan ini, semoga bisa diatur dan dikelola secara baik dan bijak sehingga anak-anak yg belajar secara daring bisa terbantu. Kalau saja tidak, maka pembelajaran secara luring atau offline mesti tetap jalan dgn berbagai pendekatan yg memudahkan anak-anak.

9. Jika semua ini tetap berjalan seperti adanya, maka marilah kita menjalaninya dengan penuh sukacita walau perih dan dengan senyuman meski terbebani. Covid ini memang menelanjangi banyak hal. Termasuk menunjukkan siapa-siapa yg jago bernarasi dalam janji kampanye, siapa-siapa yg berkomitmen hebat ketika mengemis suara dan siapa-siapa yg bisa lakukan hal kecil untuk kebaikan banyak orang. Selamat ber-daring. Semoga tidak mudah menyebabkan hipertensi, stroke, amnesia, asam urat, muka asam, dan komplikasi-komplikasi lainnya.

Salam sehat!!!

KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here