PSW Tanjungpinang Gagal ke Pesparawi Nasional, Mimpi Harumkan Kepri Kandas di Bandara

Tanjungpinang48 Dilihat

TANJUNGPINANG – ADA RASA BANGGA yang menyelimuti para penyanyi Paduan Suara Wanita (PSW) Kota Tanjungpinang, ketika dipercaya mewakili Provinsi Kepulauan Riau pada ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat.

Kepercayaan itu bukan datang begitu saja. Berbulan-bulan mereka berlatih, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya demi satu impian: tampil di panggung nasional dan mengharumkan nama Kepulauan Riau.

Pesparawi Nasional XIV digelar dari tanggal 18-28 Juni 2026 di Manokwari dan dibuka langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, pada 20 Juni. Bagi kontingen PSW Tanjungpinang, ajang tersebut menjadi kesempatan bersejarah karena untuk pertama kalinya Tanjungpinang dipercaya menjadi wakil Kepri pada kategori paduan suara wanita.

Semangat itu begitu besar. Mereka membayangkan berdiri di hadapan dewan juri dan ribuan penonton, mempersembahkan harmoni terbaik demi membawa pulang prestasi untuk daerah.

Semangat yang sama juga dirasakan Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kota Tanjungpinang, Ria Ukur Tondang. Ia yakin Tim asuhanya mampu memberikan penampilan terbaik.

“Kami ingin tampil maksimal dan memberikan hasil terbaik untuk nama Provinsi Kepulauan Riau di tingkat nasional,” ujar Ria saat dihubungi lewat ponsel, Minggu malam (28/6/2026).

Harapan itu semakin menguat ketika keberangkatan mereka dilepas secara resmi oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau, di Golden Prawn, Batam, pada  16 Juni 2026.

Namun tidak seorang pun menyangka, pelepasan tersebut justru menjadi awal dari kekecewaan yang mendalam. PSW Tanjungpinang gagal berangkat karena masalah tiket yang tidak tersedia

***

Peserta Paduan Suara Wanita (PSW) saat menunggu keberangkatan di bandara. (dok lppd tanjungpinang)

Dari penjelasan Ria Ukur, sebelum keberangkatan seluruh peserta telah menerima rincian tiket perjalanan dari pihak travel yang ditunjuk panitia Pesparawi tingkat provinsi. Panitia ini dibentuk oleh Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Provinsi Kepulauan Riau.

Dalam tiket yang diterima, tercantum rute Batam-Manokwari dengan beberapa kali transit dan jadwal keberangkatan pada 24 Juni 2026. Namun, kejanggalan mulai terlihat pada hari keberangkatan. Ria Ukur bersama rombongan peserta yang bertolak dari Tanjungpinang ke Bandara Hang Nadim, Batam, tidak langsung diterbangkan ke Papua Barat sebagaimana tertera dalam tiket. Mereka justru diminta menginap di Batam.

Meski mulai muncul tanda tanya, seluruh peserta memilih tetap bersabar. “Kami menganggap mungkin hanya ada kendala teknis. Yang penting kami tetap bisa berangkat ke Manokwari,” kenang Ria.

Keesokan harinya, mereka diberangkatkan. Namun tiket yang digunakan sudah berbeda. Mereka hanya diterbangkan dari Batam menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.

Setibanya di Jakarta, rombongan kembali menunggu tiket lanjutan menuju Manokwari. Jam demi jam berlalu, tidak ada kepastian. Setiap kali menghubungi pihak travel, jawaban yang diterima selalu sama: diminta bersabar menunggu karena tiket sedang diproses.

Dipingpong dari Satu Pintu ke Pintu Lain

Peserta PSW Tanjungpinang beristirahat di salah satu rumah makan di kawasan bandara soekarno-hatta, jakarta, yang sudah berjam-jam menunggu kepastian keberangkatan ke monokwari. (dok lppd Tanjungpinang)

Harapan tampil ke panggung nasional, perlahan berubah menjadi kegelisahan. Tiket rute Batam-Monokwari ternyata tidak bisa digunakan  Dari penjelasan petugas maskapai bandara, dokumen tersebut baru berupa reservasi (booking) dan belum diterbitkan sebagai tiket karena belum dilakukan pembayaran, sehingga tidak dapat digunakan untuk terbang.

Mendengar penjelasan itu, seluruh peserta hanya bisa terdiam. Impian yang telah mereka bangun selama berbulan-bulan runtuh seketika.

Yang paling menyakitkan, kata Ria Ukur, mereka sempat diminta berpindah-pindah dari satu gate keberangkatan ke gate lainnya seolah-olah penerbangan akan segera dilakukan.

“Kami dipingpong dari satu pintu keberangkatan ke pintu lainnya. Sampai akhirnya kami sadar memang tidak ada penerbangan untuk kami,” ujarnya.

Tak lama kemudian, pihak travel menyampaikan bahwa tiket menuju Manokwari memang belum tersedia. Gagal berangkat, malam itu mereka menginap di Jakarta sebelum pulang ke Tanjungpinang pada 26 Juni 2026.

“Kami akhirnya gagal berangkat karena memang tidak ada tiket ke Manokwari. Kami menginap semalam di Jakarta, lalu dipulangkan ke Tanjungpinang. Penginapan dan tiket pulang difasilitasi pihak travel,” kata Ria Ukur.

Latihan Berbulan-bulan Berakhir dengan Kekecewaan

Bagi Ria Ukur dan seluruh peserta PSW Tanjungpinang, kegagalan ini jauh lebih menyakitkan daripada kalah dalam perlombaan.

Mereka bahkan tidak pernah mendapat kesempatan naik ke panggung nasional.
Seluruh latihan, pengorbanan, dan harapan untuk mengharumkan nama Kepulauan Riau harus berakhir di ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta.

Mereka pulang bukan membawa medali ataupun pengalaman berlomba, melainkan membawa rasa kecewa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kesempatan emas yang datang setelah perjuangan panjang lenyap bukan karena kemampuan mereka, melainkan karena persoalan teknis keberangkatan yang hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya.

Sebelum meninggalkan Jakarta dan kembali ke Tanjungpinang, peserta PSW Tanjungpinang memilih menutup kekecewaan dengan cara yang mengharukan. Di salah satu sudut Bandara Soekarno-Hatta, mereka mengenakan seragam resmi yang sedianya dipakai saat berlaga di Pesparawi Nasional, lalu menyanyikan lagu yang telah berbulan-bulan mereka latih untuk dipersembahkan di panggung Manokwari.

Lantunan lagu itu bukan lagi untuk dinilai dewan juri, melainkan menjadi pelipur lara atas mimpi yang gagal terwujud. Di balik setiap nada, mereka membuktikan kepada publik bahwa kemampuan dan dedikasi yang telah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh tidak pernah pudar dan layak diapresiasi.

Video penampilan mereka di bandara kemudian viral di media sosial. Warganet dari berbagai daerah menyampaikan rasa empati dan simpati kepada kontingen PSW Tanjungpinang.

Banyak yang menyayangkan gagalnya keberangkatan wakil Provinsi Kepulauan Riau itu, bahkan tidak sedikit yang mendesak agar persoalan tersebut diusut tuntas. Sejumlah warganet juga mempertanyakan pengelolaan anggaran hingga tiket pesawat peserta PSW Tanjungpinang tidak tersedia.

***

Peserta meninggalkan bandara Soekarno-Hatta menuju penginapan. Mereka gagal berangkat ke monokwari karena tiket tidak tersedia. (dok lppd tanjungpinang)

Menurut Ria Ukur Tondang, pembiayaan keberangkatan kontingen menjadi tanggung jawab Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Provinsi Kepulauan Riau bersama panitia penyelenggara Pesparawi tingkat provinsi. Namun hingga kini, ia mengaku belum menerima penjelasan resmi mengenai penyebab gagalnya keberangkatan tersebut.

Padahal, kontingen tersebut merupakan wakil resmi Provinsi Kepulauan Riau pada kategori Paduan Suara Wanita di ajang Pesparawi Nasional XIV.

“Sejauh ini belum ada klarifikasi mengenai permasalahan yang membuat kami gagal berangkat ke Manokwari,” ujar Ria Ukur.

Ia mengatakan penjelasan terbuka sangat penting agar seluruh peserta mengetahui penyebab kegagalan tersebut sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab kepada para peserta yang telah berjuang mempersiapkan diri selama berbulan-bulan.

“Kami berharap ada penjelasan yang sebenar-benarnya. Harus ada klarifikasi dan pertanggungjawaban dari pengurus LPPD Provinsi Kepulauan Riau maupun panitia Pesparawi tingkat provinsi atas gagalnya keberangkatan kami,” tegasnya.

Bagi Ria dan seluruh peserta PSW Tanjungpinang, penjelasan itu bukan sekadar untuk mencari siapa yang harus disalahkan, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para peserta yang telah dipercaya membawa nama Kepulauan Riau di tingkat nasional, namun akhirnya gagal tampil bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena persoalan keberangkatan.

Hingga berita ini diterbitkan, suluhkepri.com masih terus berupaya mengkonfirmasi pihak-pihak terkait guna memperoleh penjelasan yang berimbang.

(Tigor R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *