TANJUNGPINANG – Selama satu dekade, asap rokok ilegal mengepul tanpa kendali di langit Kepulauan Riau. Di warung kopi, kios pinggir jalan, hingga pelabuhan rakyat, batang-batang rokok tanpa pita cukai negara dijual bebas, seolah-olah barang sah dari pabrikan resmi.
Padahal, negara rugi triliunan rupiah setiap tahun akibat kebocoran penerimaan cukai. Di tengah kebisuan aparat, jaringan mafia rokok ilegal justru kian kukuh menguasai pasar, terutama di Batam dan Tanjungpinang.
“Sudah lama rokok tanpa cukai beredar di Tanjungpinang. Aparat tahu, tapi seolah memilih tiarap,” ujar Hajarullah Aswad, Koordinator Utama Forum Peduli Ibukota Provinsi Kepri (FPI Kepri), yang juga tokoh masyarakat Tanjungpinang, kepada suluhkepri.com, Selasa (14/10/2025). Organisasi masyarakat yang dipimpinya itu kerap mengkritisi kebijakan publik di wilayah Provinsi Kepri.
Menurut Hajarullah, fenomena rokok ilegal bukan barang baru. Sejak lama Batam menjadi titik rawan penyelundupan barang-barang tanpa cukai, termasuk rokok dari luar negeri. Dulu peredarannya kecil, terbatas, dan sembunyi-sembunyi. Sekarang, katanya, “gila-gilaan, terang-terangan, seolah hukum tak lagi punya arti.”
Pedagang di Tanjungpinang mengaku menjual rokok ilegal dengan aman dan tenang, karena mendapat “jaminan keamanan” dari kelompok tertentu yang disebut-sebut mengendalikan distribusi dari Batam. “Kami berani menjual rokok Batam (sebutan rokok ilegal) karena ada jaminan perlindungan,” pengakuan beberapa pedagang kepada suluhkepri.com, beberapa waktu lalu. Mereka enggan disebut namanya.
Fakta di lapangan memperlihatkan betapa kuatnya cengkeraman jaringan mafia ini. Mereka bukan hanya menguasai rantai distribusi, tetapi juga diduga mampu membungkam penegak hukum. Negara, kata Hajarullah, seperti “tak berdaya menghadapi kongsi gelap yang mengakar di Batam.”
•••••
Hajarullah yakin sindikat rokok ilegal di Kepri bukan jaringan kecil. Ia menyakini ada keterlibatan “orang-orang besar”, mulai dari pengusaha nakal, oknum aparat dan pengurus partai politik, hingga pensiunan penegak hukum.
“Informasi yang saya dapat, sindikat ini melibatkan banyak nama ternama di Kepri. Dari pengusaha, oknum aparat hingga pensiunan,” ujarnya.
Dari informasi yang diterima suluhkepri.com, jalur distribusi utama rokok ilegal dari Batam ke Tanjungpinang melewati perairan Bintan. Barang dibawa lewat dua jalur: pertama, kendaraan pribadi atau barang melalui kapal roro rute Punggur-Tanjunguban. Kedua, jalur laut kecil menggunakan pompong. Namun, misteri yang masih belum terjawab: apakah rokok itu diproduksi di Batam atau diselundupkan dari luar negeri lalu “disulap” menjadi produk lokal?
Di tengah kenyataan ini, aparat penegak hukum, terutama jajaran Bea dan Cukai, seperti kehilangan taring. Padahal, lembaga itu yang memegang mandat utama dalam pengawasan peredaran barang bercukai. “Negara dirugikan, sementara pegawai nakal dan mafia justru berpesta pora menikmati hasilnya,” sindir Hajarullah.
Menteri Keuangan Purbaya, yang membawahi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sebenarnya sudah menabuh genderang perang terhadap peredaran rokok ilegal. Ia berulang kali menegaskan akan menindak tegas pegawai yang bermain mata dengan mafia cukai. Namun, hingga kini, ancaman itu seperti hanya gema di ruang kosong.
“Ancaman Purbaya tak membuat mereka gentar. Mafia tetap berjaya, aparat tetap diam,” kata Hajarullah. Ia bahkan mengutip pepatah, “anjing menyalak, kafilah tetap berlalu,” menggambarkan betapa tak tergoyahnya jaringan mafia rokok ilegal di Kepri.
•••••
Di lapangan, peredaran rokok ilegal terus menggila. Sementara pusat sibuk dengan retorika pemberantasan, di daerah para pelaku bisnis gelap ini terus memperluas jaringan dan memperkuat pengaruh.
“Kalau negara serius, masalah ini bisa diberantas secepatnya. Cuma soal kemauan,” tegas Hajarullah. Ia menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto turun tangan langsung, menindak tegas para mafia dan oknum aparat yang bermain di belakang layar.
Forum Peduli Ibukota Kepri, kata Hajarullah, berharap Presiden Prabowon segera membentuk Tim Penindakan dan menggelar operasi besar-besaran untuk menyikat habis mafia rokok ilegal serta aparat penegak hukum dan pegawai nakal bea cukai yang terlibat.
“Sudah saatnya mereka yang mempermainkan hukum dan merugikan negara ditangkap. Kalau Kepri dan negara ini mau maju, tak ada jalan lain selain membersihkan semua yang terlibat,” tegas Hajarullah menutup pernyataan.
(tr/red)






