TANJUNGPINANG – Pulau Bintan selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah bertuah di tanah Melayu. Daerah ini kaya akani warisan sejarah, adat istiadat yang kuat, serta budaya Melayu yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi. Nilai-nilai religius, sopan santun, dan kehidupan bermasyarakat menjadi identitas yang melekat di tengah masyarakatnya.
Namun di balik citra tersebut, sebagian warga menilai maraknya praktik perjudian tebak angka atau siejie Singapur mulai mencoreng nilai-nilai luhur yang selama ini dijaga masyarakat Melayu di Tanjungpinang.
Aktivitas perjudian yang dikenal masyarakat sebagai togel itu disebut semakin terbuka dan leluasa beroperasi. Berdasarkan penelusuran di lapangan, praktik siejie tersebut mengikuti hasil keluaran nomor dari Singapura yang diputar tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Sabtu, Minggu, dan Rabu.
Warga menyebut para penampung taruhan dari pemain dikenal sebagai agen lapangan atau juru tulis. Mereka diduga tersebar di sejumlah titik strategis dan kerap beraktivitas di kedai kopi yang ramai pengunjung.
Seorang agen lapangan yang ditemui mengaku aktivitas penjualan nomor siejie berlangsung tanpa rasa khawatir terhadap penindakan aparat penegak hukum. Ia bahkan menyebut adanya jaminan dari bandar besar yang menaungi para agen di lapangan.
“Kalau tidak ada jaminan dari bos, kami juga tidak berani jadi agen lapangan. Takut terendus polisi dari laporan warga,” ungkap pria tersebut, Selasa (27/5/2026).
Ia menjelaskan, taruhan paling kecil untuk satu pasangan nomor dimulai dari Rp5 ribu. Seluruh transaksi ia sebut dilakukan secara digital, mulai dari pengiriman pasangan nomor hingga pembayaran taruhan menggunakan fasilitas perbankan dan ponsel pintar.
“Pesanan masuk lewat ponsel, lalu kami kirim lagi ke bos lewat ponsel juga. Uang taruhan langsung ditransfer ke rekening yang sudah disiapkan,” ujarnya.
Menurut pengakuannya, aktivitas agen berlangsung sejak pagi hingga pukul 16.00 WIB pada hari pemutaran nomor. Para agen disebut tidak perlu bertemu langsung dengan bandar karena seluruh transaksi dilakukan secara daring.
Ia juga mengaku setiap agen memperoleh bagian sekitar 25 hingga 30 persen dari omzet taruhan yang berhasil dikumpulkan. Bahkan, agen tersebut menyebut dalam satu kali putaran, omzet yang ia peroleh bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp8 juta.
Pria itu mengaku sudah hampir tujuh tahun menjalani aktivitas sebagai agen siejie lapangan. Selama itu pula, ia mengklaim belum pernah berurusan dengan aparat kepolisian.
“Kalau ada razia biasanya kami sudah dapat informasi sebelumnya. Jadi cukup di rumah menerima pesanan lewat ponsel,” katanya.
Pengakuan tersebut memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Sejumlah ibu rumah tangga di Tanjungpinang meminta aparat penegak hukum bertindak serius membongkar jaringan perjudian siejie hingga ke bandar besarnya.
“Kami minta polisi benar-benar bertindak dan menangkap bandar besarnya. Jangan hanya pemain kecil yang disentuh,” ujar beberapa ibu rumah tangga yang tidak mau identitasnya dipublikasikan.
Merryana, bukan nama sebenarnya, seorang ibu rumah tangga yang tinggal KM 8, menilai praktik judi siejie di Tanjungpinang sudah berlangsung lama dan semakin terang-terangan.
“Karena ada pembiaran, makanya judi siejie seperti tidak takut lagi dengan polisi,” katanya dengan nada kesal.
Ia berharap aparat kepolisian tidak menunggu tekanan atau keluhan masyarakat untuk melakukan tindakan penegakan hukum. Menurutnya, apabila praktik tersebut masih masuk kategori perjudian yang dilarang hukum di negeri ini, maka aparat seharusnya bergerak aktif melakukan penindakan.
“Kalau memang itu judi dan melanggar hukum, polisi seharusnya bertindak tanpa harus menunggu masyarakat ribut dulu,” ujarnya.
Ia berharap aparat penegak hukum dapat menunjukkan komitmen nyata dalam memberantas praktik perjudian yang dinilai semakin meresahkan dan berpotensi merusak kehidupan sosial masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Kapolresta Tanjungpinang terkait maraknya aktivitas judi siejie Singapur yang dikeluhkan masyarakat.
(red)






