Waspada Hantavirus, Kadinkes Tanjungpinang Jelaskan Gejala dan Cara Pencegahannya

Tanjungpinang39 Dilihat

TANJUNGPINANG – Hantavirus merupakan salah satu penyakit berbahaya yang masih belum banyak dikenal masyarakat. Penyakit ini perlu diwaspadai karena gejalanya kerap menyerupai demam biasa sehingga sulit dikenali sejak awal.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB (Dinkesdalduk KB) Kota Tanjungpinang, Rustam, menjelaskan gejala awal hantavirus mirip dengan beberapa penyakit lain seperti dengue dan leptospirosis.

“Gejala awal umumnya berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan tubuh terasa lemas,” kata Rustam dikutip dari portal Pemko Tanjungpinang, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat tidak menyadari telah terpapar virus karena menganggap hanya mengalami demam biasa. Untuk membantu identifikasi kasus, Kementerian Kesehatan akan menyiapkan pemeriksaan khusus.

“Virusnya ini gejalanya sulit dibedakan karena sama-sama demam. Nanti ada tes dari Kemenkes supaya bisa diketahui,” ujarnya.

Rustam menjelaskan, tikus menjadi sumber utama penularan hantavirus. Lingkungan yang kotor, tumpukan sampah, saluran air yang tidak terawat, hingga gudang lembap dapat menjadi tempat berkembang biaknya tikus pembawa penyakit.

Karena itu, masyarakat diimbau lebih memperhatikan kebersihan lingkungan serta melakukan pengendalian populasi tikus di sekitar rumah untuk mencegah risiko penyebaran virus.

“Prinsipnya, lingkungan kita harus bebas dari tikus. Kebersihan rumah harus dijaga dan sampah harus dikelola dengan baik,” kata Rustam.

Ia menambahkan, berbeda dengan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, hantavirus menyebar melalui urin, kotoran, maupun air liur tikus yang mencemari udara dan permukaan benda.

Seseorang dapat terinfeksi ketika menghirup debu yang telah terkontaminasi virus, terutama saat membersihkan ruangan kotor atau area yang menjadi sarang tikus.

Selain menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika membersihkan area berdebu atau lokasi yang ditemukan banyak kotoran tikus guna mengurangi risiko paparan virus.

Rustam menegaskan, hantavirus bukan penyakit yang hanya ditemukan di luar negeri. Paparan virus tersebut juga pernah ditemukan di Indonesia dan berkaitan erat dengan keberadaan tikus sebagai pembawa virus.

Menurutnya, upaya menekan risiko penyebaran hantavirus tidak cukup hanya melalui pengobatan, tetapi harus dimulai dari penerapan pola hidup bersih dan pengendalian lingkungan.

“Yang paling penting itu pencegahan. Jangan biarkan rumah kotor dan banyak tikus, karena itu bisa menjadi sumber penyakit,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam yang tidak kunjung membaik, terutama bagi warga yang tinggal di lingkungan dengan banyak tikus.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *