Jalan Sunyi Ade Angga Menuju Kursi Ketua DPD Golkar Kepri

Opini23 Dilihat

PANGGUNG POLITIK selalu punya cerita. Kadang riuh oleh nama-nama besar, kadang sunyi sebelum menghadirkan kejutan yang tak disangka.

Di tengah dinamika yang kerap tak terduga, figur yang semula tak diunggulkan justru bisa tampil sebagai pemenang di saat akhir. Di situlah kisah Ade Angga menemukan jalannya.

Beberapa waktu lalu, bursa calon Ketua DPD I Partai Golkar Kepri, dipenuhi spekulasi. Nama-nama kuat seperti Rizki Faisal dan Roby Kurniawan seolah sudah menguasai panggung sejak awal.

Di tengah gemuruh itu, Ade Angga justru nyaris tak terdengar. Ia seperti berada di pinggir panggung, ia hadir, tetapi tak menjadi pusat perhatian. Banyak yang mengira kontestasi hanya milik dua nama besar tadi.

Hari-hari menjelang Musda V DPD Golkar Provinsi Kepri berlalu dengan asumsi yang sama. Publik menanti duel besar, seolah hanya tinggal menunggu siapa di antara dua nama itu yang akan melangkah lebih jauh.

Namun politik kerap berjalan di luar dugaan. Saat pendaftaran calon dibuka hingga detik terakhir, yang ditutup pada Senin (20/4/2026), hanya satu nama yang benar-benar datang membawa berkas: Ade Angga.

Tak ada Rizki Faisal. Tak ada Roby Kurniawan. Panggung yang semula diprediksi ramai, tiba-tiba sunyi dan hanya menyisakan satu aktor.

Dari situ, arah cerita berubah. Ade Angga pun akhirnya ditetapkan sebagai calon tunggal Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Kepri.

Tanpa hiruk-pikuk, tanpa persaingan terbuka, ia justru melangkah paling dekat ke kursi ketua. Dengan status calon tunggal, Ade Angga tinggal menunggu pengesahan melalui mekanisme aklamasi dalam puncak Musda, pada Selasa (21/4/2026), untuk ditetapkan secara resmi sebagai Ketua DPD I Golkar Kepri, periode 2025-2030.

Bagi yang mengikuti perjalanan politiknya, momen ini terasa seperti babak baru dari kisah panjang yang penuh tikungan. Ade Angga bukan sosok instan di partai Golkar.

Ia memulai dari bawah, membesarkan Golkar di Tanjungpinang, memimpin sebagai ketua, lalu duduk dua periode di DPRD hingga menjadi wakil ketua.

Namun jalan tak selalu mulus. Saat peluang besar datang, termasuk dalam Pilkada dan perebutan posisi strategis di pentas politik, ia beberapa kali harus mengalah dan juga pernah mengalami kekalahan dalam perebutan kursi Wakil Wali Kota Tanjungpinang, pada 2021.

Namanya sempat meredup. Bahkan nyaris tenggelam dari sorotan, seolah panggung politik telah berpindah ke orang lain.

Tapi seperti roda yang terus berputar, Ade Angga tidak benar-benar pergi. Ia tetap bertahan di dalam partai, bekerja dalam diam, menjaga loyalitas, dan menunggu waktu.

Dan waktu itu akhirnya tiba di Musda V ini. Bukan dengan hiruk-pikuk, melainkan melalui jalan sunyi yang jarang disadari banyak orang.

Sosok yang sebelumnya dianggap pelengkap, ia justru berdiri sendiri di garis akhir, tanpa pesaing.

Musda V Golkar Kepri pun bukan sekadar forum organisasi. Ia menjadi saksi bagaimana kejutan politik bisa mengubah segalanya dalam sekejap.

Di tengah sunyinya kompetisi, satu nama justru bersinar: Ade Angga. Sosok yang semula dipandang berada di pinggir panggung, kini berdiri tegak di pusat sorotan.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *