Bappenas RI: Pulau Penyengat Potensial Jadi Kawasan Ekonomi Oranye Berbasis Budaya Melayu

Tanjungpinang355 Dilihat

Storytelling Budaya, Wisata Kreatif, dan Kolaborasi Dinilai Kunci Penguatan Ekonomi Masyarakat Lokal

TANJUNGPINANG – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI menilai Pulau Penyengat memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan ekonomi oranye berbasis budaya dan sejarah Melayu di Provinsi Kepulauan Riau.

Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas RI, Uke Mohammad Hussein, saat melakukan kunjungan lapangan ke Pulau Penyengat dan mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang di Kantor Bappelitbang, Kamis (7/5/2026).

Menurut Uke, Bappenas saat ini memiliki tiga fokus pengembangan tematik nasional, yakni ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi oranye yang berkaitan dengan sektor budaya serta ekonomi kreatif.

“Salah satu tugas pokok kami adalah mengembangkan ekonomi oranye itu,” ujar Uke.

Ia menilai Pulau Penyengat memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan identitas Melayu yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Uke mengungkapkan, kunjungan tersebut menjadi kali keempat dirinya datang ke Pulau Penyengat. Ia mengapresiasi berbagai perubahan dan penataan kawasan yang dinilai semakin baik dibanding kunjungan sebelumnya.

Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas RI, Uke Mohammad Hussein, saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang di Kantor Bappelitbang, Kamis (7/5/2026). SK

“Alhamdulillah sudah keempat kali saya ke sini, jauh lebih baik dari pertama kunjungan saya ke Penyengat,” katanya.

Menurutnya, pengembangan wisata budaya tidak cukup hanya menghadirkan situs sejarah semata, tetapi harus diperkuat dengan storytelling, narasi budaya, serta pengalaman wisata yang memberi nilai tambah bagi pengunjung.

“Tour yang dilakukan bukan sekadar melihat situs sejarah, tetapi ada storytelling dan pewarisan nilai kepada generasi penerus. Budaya itu bisa dimonetisasi melalui kegiatan tourism,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar seluruh situs budaya di Pulau Penyengat dilengkapi informasi sejarah yang memadai, paket wisata terstruktur, dan narasi budaya yang kuat sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih utuh saat berkunjung.

Selain potensi sejarah Melayu, Uke menilai kuliner khas Pulau Penyengat juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai identitas daerah dan bagian dari ekonomi kreatif berbasis budaya.

Dalam FGD bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang, Uke menyebut Pulau Penyengat sebenarnya telah memiliki narasi budaya dan paket wisata yang baik. Namun, promosi dan strategi pemasaran wisata dinilai masih perlu diperkuat agar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi semakin besar.

“Sudah ada storytelling, sudah ada paket wisata, tinggal marketing-nya diperbesar,” ujarnya.

Bappenas juga mendorong pembentukan Destination Management Organization (DMO) yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat guna memperkuat pengelolaan destinasi wisata secara berkelanjutan.

Selama kunjungan di Pulau Penyengat, rombongan Bappenas meninjau sejumlah situs budaya dan sejarah, di antaranya Makam Raja Hamidah dan Raja Ali Haji, Makam Raja Haji Fisabilillah, Rumah Hakim Raja Haji Abdullah, Rumah Kreatif Dekranasda, Balai Adat, hingga Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Rombongan juga mengikuti pengalaman budaya Melayu seperti makan berhidang dan mengenakan pakaian adat Melayu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri, menyambut baik kunjungan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan Pulau Penyengat sebagai kawasan budaya dan ekonomi kreatif unggulan di Kepulauan Riau.

Senada dengan itu, Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang, Riono, mengatakan Pemerintah Kota Tanjungpinang terus memperkuat sektor budaya dan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Menurutnya, selain Pulau Penyengat, Tanjungpinang juga memiliki beragam destinasi sejarah dan budaya lain yang potensial untuk dikembangkan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *