Konten Kreator Diajak Kenalkan Warisan Budaya Melayu Lewat Karya Digital

Tanjungpinang630 Dilihat

TANJUNGPINANG – Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Riau-Kepri mendorong para kreator digital untuk lebih aktif mengangkat dan mempromosikan warisan budaya Melayu melalui media sosial dan platform digital. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Kembara Warisan Budaya, yang ditutup oleh Kepala BPK Wilayah IV Riau–Kepri, Jumhari, Kamis (9/10/2025) malam di Hotel Alltrue, Tanjungpinang.

Dilansir dari portal resmi Pemerintah Kota Tanjungpinang, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 7–9 Oktober 2025 itu, diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, influencer, konten kreator, Basarnas, Dewan Kesenian, serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang.

Para peserta menjelajahi sejumlah situs bersejarah seperti Sungai Carang (Hulu Riau) hingga Pulau Penyengat, dan menghasilkan karya video bertema “Temukan Warisan, Ciptakan Cerita” yang mengangkat kekayaan budaya Melayu Riau–Lingga.

Kepala BPK Wilayah IV, Jumhari, mengatakan Pulau Penyengat merupakan salah satu pusat peradaban Melayu Riau–Lingga yang menyimpan banyak nilai historis dan budaya. Melalui kegiatan ini, BPK ingin menghadirkan pendekatan baru dalam pelestarian budaya dengan menggandeng para kreator digital.

“Kegiatan ini bukan hal baru, tetapi konsep dan pesertanya berbeda. Kami melibatkan para konten kreator aktif di media sosial untuk menciptakan konten positif dan memperluas jangkauan cerita budaya melalui algoritma digital yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, pelibatan generasi muda dan komunitas kreatif menjadi kunci penting dalam menjaga kesinambungan budaya.

“Kami ingin peserta menjadi pewarta budaya — mata, telinga, dan ujung tombak dalam mengenalkan kembali sejarah kita. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan, tetapi pembentukan cara pandang baru terhadap warisan budaya,” tambahnya.

Jumhari juga berharap agar profesi konten kreator budaya semakin diakui dan dikembangkan di masa depan. “Konten kreator bukan hanya pekerjaan hiburan, tetapi juga bisa menjadi profesi yang berperan dalam pendidikan kebudayaan. Tantangannya besar, namun hasilnya dapat menjadi bahan belajar dan inspirasi,” tuturnya.

Salah satu peserta dari Dewan Kesenian Kota Tanjungpinang, M. Sabri, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan ini. “Kami tidak hanya belajar tentang sejarah dan budaya Melayu, tapi juga bagaimana mengemasnya agar lebih menarik dan bisa dinikmati masyarakat lewat media sosial,” ujarnya.

Kegiatan Kembara Warisan Budaya dinilai menjadi contoh sinergi antara pelestarian tradisi dan inovasi digital, serta membuka ruang kolaborasi antara lembaga pemerintah, komunitas seni, dan generasi muda untuk terus menjaga denyut budaya Melayu di era modern.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *