Di Balik Gemerlap Musik KIM PCW: Saat Hiburan Diduga Menjelma Jadi Arena Judi Terbuka

Hukrim33 Dilihat

TANJUNGPINANG – Malam di kawasan Pinang City Walk (PCW), Jalan Teuku Umar, Tanjungpinang tampak hidup. Lampu warna-warni menyala terang. Musik berdentum memecah keramaian. Di atas panggung, seorang pemandu dengan lincah menyanyikan lagu demi lagu sambil menghibur ratusan pengunjung yang memadati gelanggang permainan KIM di lokasi itu.

Namun di balik suasana yang tampak seperti hiburan rakyat biasa itu, tersimpan praktik permainan yang diduga kuat mengarah pada aktivitas perjudian terselubung.

Di samping sang pemandu, sebuah tabung kecil berisi lempeng angka diletakkan di atas meja. Sambil terus bernyanyi mengikuti irama musik, tangannya sesekali mengocok tabung tersebut sebelum mengambil satu per satu lempeng angka dari dalamnya. Angka yang keluar kemudian diumumkan dengan nada khas layaknya pembawa acara hiburan.

Sorotan proyektor langsung menampilkan angka itu ke layar-layar besar di sekitar arena. Para pemain yang duduk di meja-meja yangbdisedkan segera mencocokkan angka tersebut dengan kupon KIM yang mereka pegang. Ada yang melingkari, ada pula yang mencoret angka demi angka dengan penuh harap.

“Kalau sudah tinggal satu angka lagi biasanya pemain mulai teriak minta tabungnya dikocok,” ujar seorang pemain kepada media ini, Selasa (19/5/2026) malam.

Dalam permainan itu, peserta berburu kombinasi lima angka dan sepuluh angka. Untuk kategori lima angka, pemain hanya perlu memenuhi satu kolom berisi lima baris angka. Sedangkan kategori sepuluh angka mengharuskan dua kolom penuh terisi secara berurutan.

Ketika seorang pemain merasa seluruh angkanya sudah lengkap, ia akan langsung mengangkat tangan atau berteriak keras dari tempat duduknya. Seorang petugas kemudian berlari menghampiri meja tersebut sambil menyalakan lampu penanda bahwa permainan dihentikan sementara.

Kupon KIM berisi angka-angka yang digunakan pemain untuk mencocokkan angka yang disebut pemandu dari panggung. SK

Musik mendadak berhenti. Sang pemandu pun menghentikan pencabutan angka dari tabung. Selanjutnya, petugas memeriksa kupon milik pemain untuk memastikan seluruh angka sesuai dengan hasil yang telah keluar sebelumnya.

“Kalau cocok semua, dia dinyatakan menang dan dapat hadiah,” kata pemain itu lagi.

Sebelum permainan dimulai, para pekerja yang disebut “waiters” berkeliling menawarkan kupon KIM dan permainan lainnya kepada pengunjung. Kupon berbentuk kertas panjang itu terdiri dari lima kolom angka, masing-masing berisi lima baris.

Harga kupon bervariasi tergantung jenis permainan dan besaran hadiah yang ditawarkan. Untuk permainan sepuluh angka, satu kupon biasanya dijual Rp15 ribu hingga Rp20 ribu dengan iming-iming hadiah mencapai Rp700 ribu lebih.

Sementara permainan lima angka dijual mulai Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per lembar dengan hadiah berkisar Rp400 ribu sampai Rp600 ribu.

“Kalau gabung dua permainan sekaligus, lima angka dan sepuluh angka, hadiahnya lebih menggiurkan” ujar pemain lainnya.

Secara kasat mata, hadiah yang dipajang memang berupa barang elektronik seperti telepon genggam model lama. Namun menurut sejumlah pemain, barang-barang itu hanya formalitas untuk menyamarkan praktik perjudian.

“Hadiah barang itu cuma kedok. Semuanya bisa diuangkan,” ungkap seorang pemain.

Dari pengakuan pemain, penukaran hadiah dalam bentuk uang tunai dipotong sebesar 5 persen dari total hadiah yang diterima. Hal inilah yang semakin memperkuat dugaan bahwa permainan tersebut tidak sekadar hiburan biasa, tapi sudah menyerupai praktik perjudian terselubung.

Tak hanya permainan KIM, di arena tersebut juga terdapat permainan tebak dua angka dan empat angka yang disebut-sebut mirip praktik togel. Pemain bebas memilih angka dari 1 hingga 90 dan menyerahkannya kepada petugas atau karyawan sebelum putaran dimulai.

Taruhan minimal disebut mulai dari Rp5 ribu, sementara hadiah yang dijanjikan mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung jenis tebakan.

“Tebakan dua angka biasanya diambil dari nomor terakhir pemenang KIM. Kalau empat angka dari kombinasi angka terakhir yang keluar,” jelasnya.

Untuk menarik minat pengunjung, panitia juga menyediakan undian angpau dengan nilai hadiah bervariasi, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Selain itu, dari pantauan di lokasi, terdapat pula permainan lain seperti rolet dan berbagai jenis permainan tambahan.

“Kalau hadiahnya tidak bisa diuangkan, mana mungkin ramai yang main,” kata seorang pemain sambil tertawa kecil.

Menurut sejumlah pengunjung, masyarakat sebenarnya memahami bahwa konsep KIM awalnya dikemas sebagai hiburan. Namun dalam praktiknya, permainan tersebut dinilai telah mengandung unsur taruhan dan keuntungan berlipat bagi pemenang.

“Intinya ada uang dipasang, lalu ada keuntungan besar kalau menang. Orang pasti tahu itu seperti apa,” ujarnya.

Permainan KIM di PCW disebut-sebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Meski berungkali menjadi sorotan media dan ramai dibahas di media sosial, aktivitas itu tetap berjalan terbuka tanpa hambatan berarti.

Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Banyak yang heran mengapa aparat penegak hukum belum mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas yang identik judi dan digelar secara terang-terangan.

“Permainan seperti ini digelar terbuka. Mustahil aparat tidak tahu,” kata sejumlah warga yang enggan disebut namanya.

Isu dugaan adanya setoran kepada oknum aparat mulai beredar di tengah masyarakat. Bahkan berkembang kabar bahwa proses penukaran hadiah disebut-sebut dikoordinasikan oleh pihak tertentu. Namun hingga kini, informasi tersebut masih sebatas dugaan dan tengah didalami.

Di tengah derasnya kritik publik, gelanggang KIM di PCW tetap beroperasi seperti biasa. Musik terus dimainkan. Angka demi angka terus diumumkan. Sementara pertanyaan tentang siapa pihak atau “orang kuat” yang berada di belakang layar dan mengapa aktivitas itu tetap bertahan, masih menjadi misteri yang belum terjawab.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *