Harga Batik Mangrove Genting Pulur Rp 400 Ribu, Ini Penjelasan Pengrajin dan KOMPAK

Anambas520 Dilihat

TAREMPA Harga Batik Mangrove Genting Pulur yang mencapai Rp400 ribu per lembar sempat menimbulkan pertanyaan di kalangan guru, mahasiswa, hingga masyarakat yang ingin membeli namun terkendala biaya. Sosialisasi di Aula Anambas Inn, Kamis (28/8/2025) siang, menjadi ruang diskusi terbuka untuk menjawab persoalan tersebut.

Bambang Asmara, Ketua sekaligus penggerak Batik Mangrove Genting Pulur, menjelaskan bahwa tingginya harga bukan semata keinginan pengrajin, melainkan dipengaruhi faktor produksi dan bahan baku.

“Bahan baku kami harus didatangkan dari Jakarta atau Jawa, sehingga biaya transportasi sangat tinggi. Proses produksinya pun berbeda dengan batik printing. Batik alami ini membutuhkan waktu 4–5 hari, dengan pencelupan berulang agar warna merata. Kesabaran dan ketelitian dalam setiap tahap sangat menentukan hasil akhir, dan semua itu memengaruhi harga,” ungkap Bambang.

Ia menambahkan, kualitas kain yang digunakan termasuk premium sehingga memperbesar biaya produksi. Namun, menurutnya, kualitas dan keunikan Batik Mangrove Genting Pulur sepadan dengan harga yang ditetapkan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komunitas Konservasi Mangrove Penyu Alam dan Karang (KOMPAK), Arpandi, menegaskan pihaknya tengah mencari jalan agar batik ini bisa lebih terjangkau oleh masyarakat luas.

“Memang ada keluhan, terutama dari guru dan pelajar. Kami akan mendiskusikan langkah agar batik tetap bisa diakses dengan harga pantas, tanpa mengurangi kualitas. Untuk kalangan pimpinan daerah, tentu ada penyesuaian harga dan standar kenyamanan,” jelasnya.

Batik Mangrove Genting Pulur tidak sekadar produk sandang, tetapi sarat nilai budaya dan lingkungan. Pewarnaannya memanfaatkan bahan alami dari mangrove, sekaligus menjadi upaya pelestarian alam pesisir Anambas. Di sisi lain, produksi batik ini juga membuka peluang ekonomi alternatif bagi masyarakat lokal.

Program yang digagas Bambang Asmara bersama KOMPAK ini mendapat dukungan penuh dari Harbor Energy. Ke depan, mereka merencanakan pembangunan Rumah Batik Mangrove Genting Pulur sebagai sentra produksi, sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat.

“Kami berharap pemerintah daerah juga ikut memberi dukungan, agar pengembangan batik mangrove ini bisa maksimal dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat Anambas,” pungkas Bambang.

(Latif/Anambas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *